SHARE
Foto: Geo Energi

Jakarta, GEO ENERGI – Persidangan praperadilan mantan Direktur Pengelolahan PT Pertamina (Persero) Suroso Atmo Martoyo terhadap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali dilanjutkan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel), hari ini. Sidang yang dipimpim hakim tunggal Suyadi akan mendengarkan keterangan saksi ahli yang diajukan oleh pemohon.

Kuasa hukum Suroso, Jonas M Sihaloho mengatakan, pihaknya akan mengajukan dua orang saksi ahli, yakni Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Padjajaran (Unpad) Prof. DR. Gde Panca Astawa SH, MH dan DR. Chairul Huda, SH, MH dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI).

“Para saksi akan enerangkan mengenai kewenangan dan lingkup kewenangan pengadilan,” kata Jonas kepada Geo Energi melalui pesang singkatnya, Kamis (9/4).

Sebelumnya, ia menerangkan bahwa saksi penyidik dari KPK Andri Effendi menyatakan bahwa penyidik tak memiliki cukup bukti untuk menjadikan Suroso sebagai tersangka.

“Kasus ini tak cukup bukti, kok (Suroso) dijadikan tersangka. Buktinya gak nyambung dengan sangkaan,” kata Jonas mengutip peryataan Andri Effendi di persidangan.

Sementara Direktur PT Sugih Interjaya, Muhammad Syakir membantah telah memberikan suap kepada pejabat Pertamina tersebut. “Suap itu tak pernah ada. Kalau kasus ini dibilang suap, Suroso sendiri tak tahu. Bagaimana mau dibilang suap,” katanya di persidangan.

Lebih jauh Syakir menjelaskan, bahwa tak ada nilai kerugian negara dalam kasus yang tengah melilit Suroso. Justru dia mengatakan, zat tambahan bahan bakar, tetraethyl lead (TEL) Pertamina. “TEL itu dibutuhkan saat itu untuk menekan biaya produksi. Justru pak Suroso yang membatalkan,” katanya.

Syakir yang diajukan sebagai saksi merasa iba kepada Suroso yang telah dijadikan tersangka bersama Direktur PT Sugih Interjaya Willy Sebastian Liem. Padahal, Syakir menilai KPK tak memiliki cukup bukti dalam penetapan dan penahanan para tersangka. “Buktinya gak nyambung dengan sangkaan suap. Tak ada bukti dalam penahanannya,” pungkasnya.

Seperti diketahui, Suroso melayangkan gugatan praperadilan terhadap KPK terkait penetapan tersangka dan penahanannya. Dia ditahan atas tuduhan menerima suap pengadaan zat tambahan bahan bakar, tetraethyl lead (TEL) Pertamina tahun 2004-2005.

Selain Suroso, KPK juga menetapkan Direktur PT Sugih Interjaya Willy Sebastian Liem sebagai tersangka. Keduanya ditetapkan sebagai tersangka pada 2011 dan 2012. Namun, KPK baru menahan mereka pada 24 Februari 2015 atau setelah tiga tahun penetapan tersangka.

Kasus dugaan suap pada pengadaan TEL di Pertamina diduga melibatkan Innospec. PT Soegih Interjaya merupakan mitra kerja Innospec di Indonesia. Perusahaan asal Inggris itu dinyatakan bersalah di pengadilan Southwark, Crown, Ingris pada 26 Maret 2010 sehingga dikenakan denda USD 12,7 juta. (RBW)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here