SHARE

MIGASNESIA.COM – Ketua Koalisi Kawali Indonesia Lestari (KAWALI) Provinsi Sumatera Utara Faisal mengatakan bahwa ada 5 warga tewas dan puluhan orang masih dirawat di Rumah Sakit sebaiknya PT Sorik Merapi Geothermal Power (SMGP) Harus Ditutup untuk beroperasi.

Dikatakan Faizal bahwa pada hari Senin 25 Januari 2021 sekira pukul 12.00 WIB di WELLPAD T Desa Sibanggor Julu Kec. PSM. Pihak PT SMGP melakukan pengetesan sumur bor. “Tapi kira-kira 15 menit kemudian menyebabkan beberapa masyarakat pingsan yang berada di sekitar TKP, bahkan yang ada yang tewas lima warga,” ujar Faizal kepada Redaksi Migasnesia.com saat dihubungi hari ini Rabu (27 Janurai 2021).

Korban Meninggal sebanyak 5 (lima) Orang antara lain :

Warga yang meninggal dilokasi dekat geothermal /Koalisi Kawali Indonesia Lestari (KAWALI)
  1. SURATMI, PR, 46 Tahun,
    Sibanggor Julu.

2. KAILA ZAHRA, PR, 5 Tahun,
Sibanggor Julu.

3. YUSNIAR, PR, 3 Tahun,
Sibanggor Julu.

4. DAHNI, PR, 45 Tahun, Sibanggor Julu.

5. SAHRANI, PR, 15 Tahun, Sibanggor Julu.
Awalnya PT SMGP pada tahun 2014 perusahan pernah bermasalah dan informasi yang kami himpun, izin perusahaan pada tahun 2014 pernah dicabut oleh Bupati. “Bahkan pernag pernah didemo oleh masyarakat.
Tapi perusahaan ini kini sudah diakusisi oleh Perusahaan berbasis di Singapura diduga perusahaan ini banyak bermasalah dengan warga setempat terutama masalah lahan dan limbahnya,” lanjut Faizal.

Ditambahkannya melihat situasi tersebut, kita meyakini legal standing AMDAL bermasalah “Perusahaan bermasalah,”katanya.

Oleh karena KAWALI akan mengutan terhadap ijin perusahan dan hukum perurusahaan, karena perusahaan telah lalai sehingga menimbulkan korban jiwa. Dan kita akan melakukan advokasi bersama dengan masyarakat.

Akibat lalai selian korban tewas ada korban yang dirawat telah didapat baru 20 (dua puluh) orang dari 24 (dua puluh emat) orang yang saat ini sedang mendapat pertolongan pertama serta dirawat oleh pihak Medis di IGD RSUD Panyabungan, antara lain :

ZAINAL ANDIT, Lk, 21 tahun, Ds. Sibanggor Julu

M. IKHSAN, Lk, 28 tahun, Ds. Sibanggor Julu

ANI LUBIS, Pr, 41 tahun, Ds. Sibanggor Julu

HAPSAH, Pr, 43 tahun, Ds. Sibanggor Julu

NUR HABIBAH, Pr, 40 tahun, Ds. Sibanggor Julu

TIMBUL, Lk, 52 tahun, Ds. Sibanggor Julu

MISBAH, Pr, 43 tahun, Ds. Sibanggor Julu

IRHAM TANJUNG, Lk, 14 tahun, Ds. Sibanggor Julu

FADILAH HUSNA, Pr, 7 tahun, Ds. Sibanggor Julu

NELMIAH, Pr, 60 tahun, Ds. Sibanggor Julu

MISBAH, Pr, 60 tahun, Ds. Sibanggor Julu

HAIDAR, Pr, 40 tahun, Ds. Sibanggor Julu

NUR PATIMAH, Pr, 31 tahun, Ds. Sibanggor Julu

NAIMAH, Pr, 26 tahun, Ds. Sibanggor Julu

SARIFAH, Pr, 47 tahun, Ds. Sibanggor Julu

RAHMAD, Lk, 40 tahun, Ds. Roburan Lombang

AHMAD SAKI, Lk, 2 tahun, Ds. Sibanggor Julu

RASILA, Pr, 37 tahun, Ds. Sibanggor Julu

ELIANA, Pr, Ds. Sibanggor Julu

AIPDA. A.L. SINAGA, Lk, 39 tahun, Polri, Asrama Polres Madina.

Personil Polres Madina yang saat ini dirawat an. AIPDA A.L. SINAGA, Ba Sat Shabara Polres Madina yang pada saat kejadian sdg melaksanakan Pengamanan di lokasi PT. SMGP dan melakukan pertolongan kepada masyarakat yg keracunan dilokasi. Saat ini korban yang dirawat di RS Permata Madina Panyabungan sebanyak 1 Orang an. SANGKOT, PR,41 Tahun, Sibanggor Julu.

Faizal juga menjelaskan bahwa urut-urutan prosedur keamanan untuk masyarakat pada operasi panas bumi, untuk well testing atau pengeboran panas bumi untuk mencegah kecelakaan gas H2S adalah sbb:

  1. Peralatan monitoring yang berfungsi dengan baik:
  • H2S detector, apabila pada konsentrasi tertentu, sirene berbunyi , semua system otomatis shut down. Sistem ini harus secara teratur dites untuk mengetahui readyness (kesiapan) dan berfungsi dengan baik.
  • ada caustic soda yang gunanya untuk mengikat H2S sebelum keluar ke udara.
  • Wind sock (kantong angin) untuk menunjukkan arah angin. Ini menentukan arah evakuasi kalau terjadi darurat gas H2S.
  • Monitor kecepatan angin: untuk mengetahui kecepatan gas H2S dan radius bahaya apabila terjadi emisi gas H2S. Data ini dikumpulkan dalam waktu panjang sehingga ada kecepatan minimum dan maksimum. Perencanaan keadaan darurat dibuat pada keadaan angin maksimum sehingga radius terjauh dapat diamankan.
  • adanya masker pencegah gas beracun yang harusnya disediakan oleh pengelola di rumah-rumah masyarakat sebelum well testing dimulai
  • ada alat bantu perbatasan (tabung oksigen) di tempat-tempat tertentu dalam radius bahaya sebelum well testing dimulai.
  1. SOP well testing.
  • Penjadwalan well testing: disinkronkan dengan jadwal kegiatan masyarakat. Misal: sebaiknya tidak pada masa panen. Ini perlu koordinasi dengan pemerintah setempat, tokoh masyarakat dan sekolah.
  • Prosedur evakuasi sementara masyarakat yang berada dalam radius bahaya pada saat well testing dan prosedur keselamatan bagi yang tidak dievakuasi.
  • pendidikan dan latihan keselamatan untuk masyarakat secara berkala (sebulan sekali) untuk menghadapi keadaan darurat. Dilakukan dengan kerjasama pemerintah setempat, organisasi keagamaan (gereja, mesjid, pura dsb), sekolah, karang taruna, pramuka dsb.

Semua itu sebetulnya ada di RKL/RPL dan UKL/UPL dan dokumen K3. Kita akui saat ini sebagian besar AMDAL di Indonesia kualitasnya buruk. Banyak konsultan AMDAL yang tidak membuat rona awal dengan baik dan hanya cut, copy , paste saja dan analisis dampaknya tidak teliti.

Pengalian bor sumur yang dilakukan perusahaan seharusnya diikuti Standar operasional yang baik dan berlaku, serta melengkapi sarana pendeteksi (Fixed Monitori System) gas H2S/H2SO di lokasi pengalian, atas kelalaian perusahaan ini,mereka pihak perusahaan bisa dihukum karna lalai menjalankan pekerjaannya dan berdampak adanya korban,begitu juga dengan pejabat yang berwenang bisa mendapatkan sangsi hukum berdasarkan pasal 112 UU no 32 tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup sebagaimana di maksud dalam pasal 71 dan pasal 72 yang mengakibatkan terjadinya pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan yang mengakibatkan hilangnya nyawa manusia, dapat di pidana dengan pidana penjara paling lama 1(satu) tahun.

Karena menurut kami harusnya ada sistem monitoring H2S yang mestinya berfungsi dan secara otomatis menutup sumur dan menghentikan seluruh kegiatan. Lalu ada sirene yang mestinya berfungsi dan ada prosedur evakuasi darurat bagi masyarakat dan petugas. Sepertinya ini gagal terjadi (sistem tdk bekerja)

Hal penting lainnya adalah transparansi pihak pengelola kegiatan panas bumi mengenai keadaan sumur yang berada dalam kelolanya dan kegiatan-kegiatan yang dilakukan.

Kalau sistem di atas berjalan dengan baik, maka korban tidak perlu jatuh. Kenyataannya pada kasus menyedihkan Sorik Merapi, semua sistem pencegahan di atas tidak berfungsi dengan baik.

Eksplorasi dan eksploitasi panas bumi adalah kegiatan yang aman dengan prosedur yang ketat dan teknologi tinggi. Menjadi tidak aman apabila pengelola lalai dan teledor dalam menjalankan prosedur keamanan yang ketat tersebut.

Kami duga kejadian Sorik Merapi adalah karena kelalaian perusahaan dalam mendeteksi kegagalan sistem monitoring H2S sehingga tidak berfungsi pada saat konsentrasi H2S demikian tinggi. Mereka pun tidak melaksanakan SOP well testing dengan baik, misalnya dengan melakukan evakuasi sementara masyarakat pada saat well testing. Merekapun baru menyadari adanya gas H2S setelah ada laporan masyarakat. Seharusnya mereka terlebih dahulu yang tahu adanya gas beracun ini.

“Pemerintah harus menghukum seberat-beratnya PT SMGP atas kelalaian ini. Jangan sia-siakan nyawa masyarakat Sorik Merapi, terutama korban anak, demi investasi. Hukum seberat-beratnya (pidana ) menghilangkan nyawa orang, cabut ijinnya dan perusahaan pemilik dilarang beroperasi di Indonesia selamanya,” tegasnya.

Kita butuh PLTP untuk kedaulatan energi dan lingkungan hidup yang baik, “Tapi kita tidak butuh operator yang sembrono , ceroboh dan lalai sehingga gagal mendeteksi hal yang paling ditakutkan di kegiatan pengeboran manapun: gas H2S,” pungkasnya. (AEM/MIGASNESIA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here