SHARE
MIGASNESIA.COM – Dalam dua pekan ini lagi rame soal pencarian minyak dan gas (migas) di Turki. Bahkan kita juga patut bangga karena ada delapan pemuda berwarga negara Indonesia bekerja di kapal pengebor minyak Turki, Fatih, turut terlibat dalam penemuan cadangan energi terbesar dalam sejarah Turki. Terbesar karena jumlah 320 miliar meter kubik cadangan gas alam ditemukan di sumur Tuna-1 sekitar 100 mil laut di pantai utara Turki di Laut Hitam.

Cadangan gas alam di sumur Tuna-1 yang kemudian diberi nama Ladang Gas Sakarya sesuai nama Provinsi Turki di dekat lokasi penemuan tersebut, Cadangan gas ini juga diharapkan dapat beroperasi dan siap digunakan untuk kebutuhan publik pada 2023. Tahun tersebut bersamaan dengan hari jadi Republik Turki ke-100. Sungguh luar biasa dan inilah sebuah kado satu abad Turki.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan telah mengumumkan penemuan langsung pada pada pidato 21 Agustus 2020 dengan mengatakan ini sebagai salah satu capaian terbesar di tengah upaya Turki mengurangi ketergantungan energi dari negara lain. Pemerintah Turki juga nantinya berharap menjadi salah satu eksportir energi di dunia.

Erdogan juga memberikan selamat bagi para pejabat dan pekerja yang telah membantu tercapainya penemuan bersejarah ini. Kapal Pengebor Fatih merupakan kapal pengebor nasional Turki yang juga mempekerjakan tenaga ahli dari berbagai negara sahabat, salah satunya Indonesia.

“Tak banyak yang berpengalaman di bidang wireline drilling, itulah kenapa kami dipekerjakan di sini dan melatıh tenaga lokal,” ujar Beni Kusuma Atmaja (30 tahun), alumni Teknik Fisika ITB dalam keterangan resmi KJRI Istanbul pada, Selasa (25/8/2020).

Beni merupakan seorang insinyur dalam wireline drilling, teknik pengeboran ultra-dalam yang efisien dalam ekstraksi dari massa bebatuan dan penemuan migas. Beni tak sendiri, putera Indonesia lain dalam misi penemuan sumber cadangan gas Turki di antaranya Randyka Komala, Bahriansyah Hutabarat, Rifani Hakim, Dian Suluh Priambodo, Hardiyan, Indra Ari Wibowo, dan Ravi Mudiatmoko. Mereka semua adalah tenaga ahli pengeboran Indonesia yang bekerja di Turkiye Petrolery Offshore Technology Center, anak perusahaan Turkiye Petroleri yang berlayar pada 29 Mei yang lalu dari Istanbul. Itu adalah perusahaan minyak pertama dan pemain penting dalam perekonomian Turki.

Konsul Jenderal RI Istanbul Imam As’ari mengapresiasi para pemuda WNI yang turut serta. “Kontribusi delapan pemuda Indonesia ini tentunya patut diapresiasi dan menjadi contoh bagi anak muda Indonesia untuk terus berprestasi dan menuntut ilmu setinggi-tingginya,” ujar As’ari.

Menurutnya sudah menjadi komitmen KJRI Istanbul untuk mendorong peningkatan jumlah tenaga kerja sektor formal dan kemampuan pekerja Indonesia di Turki. Masuknya kedelapan pemuda Indonesia membuktikan Indonesia mampu bersaing di pasar tenaga kerja teknologi tinggi di dunia.

“Ke depan, diharapkan semakin banyak Pemuda Indonesia yang mampu berkontribusi positif bagi perkembangan Indonesia dan dunia internasional,” tukasnya yang dilansir Republika.

Sebelumnya di kabarkan bahwa Turki pernah menugaskan perusahan minyak: British BP, Shell Belanda dan RDS untuk mencari minyak dan gas di wilayah Turki. Bertahun-tahun tiga perusahaan itu melakukan penelitian dan pencarian namun tak berhasil menemukan satu pun sumur/ladang gas dan minyak.

Ajaibnya ketika Turki Menerima Islam Kembali Sebagai Landasan Kehidupan dan meneliti dan mencari sendiri gas dan minyak justru menemukan sumur/ladang gas dengan cadangan sebesar 320 milyar meter kubik. Penemuan ini hanya makan waktu satu bulan. Masalah minyak dan gas adalah titik lemah Turki. Setiap tahun Turki habiskan tak kurang dari 42 miliar dollar buat membeli minyak dan gas. Rusia sering menekan Turki melalui gas alam. Sehingga menjadikan Turki sering kali tak bisa bersikap lebih tegas pada Rusia.

Kini Turki masuk fase baru di masa depan. Hanya dengan mengatakan “kabar gembira” mata uang lira Turki pun langsung menguat atas dollar Amerika. Sebelum mata uang Turki melemah atas dollar bukan karena faktor lemahnya fundamental ekonomi Turki. Penyebab utamanya adalah serangan dari Amerika. Media Yeni Syafaq menyebut jumlah itu cukup buat memenuhi energi Turki selama tujuh puluh tahun.

Semoga Turki akan menemukan sumur/ladang minyak dan gas lainnya di Laut Putih Tengah, Laut Aegea dan di daratan wilayahnya.

Bila Turki ingin bangkit dan membangun kembali sebuah imperium modalnya besar. Modal itu hanya bisa diberikan oleh Allah Ta’ala. Namun syaratnya satu saja: beribadah kepada Allah Ta’ala dan membela Islam dan umat Rosulullah SAW. Dan Allah Maha Kaya dan Maha Terpuji. Allah akan berikan rejeki kepada orang atau bangsa yang dikehendaki-Nya tanpa hitungan.

Sungguh penemuan sumur/ladang gas di blok Tuna 1 di Laut Hitam adalah nikmat dan karunia dari Allah Ta’ala. Semoga digunakan Turki buat berkhidmat pada agama dan membantu umat Islam diseluruh dunia. Bertahun-tahun Turki memberi makan jutaan pengungsi Syria. Sekarang Allah Ta’ala membalasnya dengan sumur gas alam di Laut Hitam. Mabruk Presiden Erdogan….Indonesia pun sangat mungkin Lebih Kaya Dari Negara manapun… Bahkan ada yang bilang dan mengatakan di viralnya Turki ini bahwa Indonesia akan jauh lebih hebat 10x lipat dari China sekarang.

*** Saya tergelitik dari kisah Turki itu. Namun saya jadi ingat kisa Arun di Aceh. Arun Natural Gas Liquefaction atau

ArunNGL.svg
PT Arun Natural Gas Liquefaction, lebih dikenal dengan PT Arun NGL, adalah perusahaan penghasil gas alam cair Indonesia. Pada tahun 1990-an, kilang Arun merupakan salah satu perusahaan penghasil LNG terbesar di dunia. PT Arun merupakan anak perusahaan Pertamina — Nah Pertamina lagi nih yang kini katanya sedang Rugi 11 T —. Eh kembali ke Arun. Arun berlokasi di Lhokseumawe, Aceh Utara, perusahaan ini memiliki 6 unit pengolahan, namun sejak 2014 operasinya ditutup, tepatnya Rabu, 15 Oktober 2014 adalah hari terakhir bagi PT Arun NGL beroperasi sebagai penghasil gas alam cair (LNG) di Indonesia. Kita bangga Arun adalah salah satu penghasil gas terbesar di Indonesia ini resmi saat itu dan berhenti setelah 36 tahun beroperasi. Penutupan operasi ditandai dengan proses peusijuek (tepung tawar) oleh tokoh masyarakat di Lhokseumawe terhadap nahkoda asal Korea Selatan, yang selanjutnya akan melakukan pengapalan terakhir gas Arun yang diekspor menuju ke negeri Ginseng. PT Arun NGL merupakan perusahaan non-profit yang sahamnya dimiliki Pertamina sebesar 55 persen, Exxon Mobil Indonesia Inc. 30 persen, dan Japan Indonesia LNG Co. Ltd 15 persen itu berhenti beroperasi, setelah mengekspor sebanyak 4.269 kali LNG ke Korea Selatan dan Jepang. SEJARAH ARUN Dapat apa kita dari Arun? Ini kisahnya. Sejak 1968, Mobil Oil melakukan kontrak bagi hasil dengan Pertamina untuk pencarian sumber-sumber minyak dari perut Bumi di darat maupun di lepas pantai. Tahun 1969, Mobil Oil mulai mengerahkan pencariannya di Aceh dengan fokus utama di Aceh Utara. Pengeboran yang dilakukan di dekat desa Arun adalah yang kelima belas kali dilakukan oleh Mobil Oil. Sejak pencarian pertama di lokasi yang berindikasi sumber energi sampai titik pengeboran keempat belas di ladang baru yang tidak dikenal sebelumnya, perusahaan tersebut telah menemukan minyak dan gas dengan kandungan karbon dioksida yang terlalu tinggi sehingga sulit dikembangkan. Perusahaan minyak Standard Oil Company of New York yang pernah beroperasi di Sumatera telah mendeteksi bahwa di Aceh terdapat kandungan gas yang besar jumlahnya. Atas dasar itu, pencarian oleh Mobil Oil yang dikoordinasi Pertamina Unit I dikonsentrasikan di desa Arun. Desa Arun adalah desa di Kecamatan Syamtalira, Aceh Utara, yang namanya kelak digunakan sebagai nama perusahaan gas alam ini. Tanggal 24 Oktober 1971, gas alam yang terkandung di bawah ladang gas Arun ditemukan dengan perkiraan cadangan mencapai 17,1 triliun kaki kubik. (kalau dibanding Turki 320 miliar meter kubik yang ditemukan Arun saat itu lebih besar. Tapi Arun kini tinggal sejarah dan hanya bisa dikenang semata) Yang menarik saat itu di Arun adalah merupakan hari ke-73 sejak uji eksplorasi yang dipimpin Bob Graves, pimpinan eksplorasi Mobil Oil di Aceh, dimulai. Pada 1972 ditemukan sumber gas alam lepas pantai di ladang North Sumatra Offshore (NSO) yang terletak di Selat Malaka pada jarak sekitar 107,6 km dari kilang PT Arun di Blang Lancang. Selanjutnya pada tahun 1998 dilakukan pembangunan proyek NSO “A” yang diliputi unit pengolahan gas untuk fasilitas lepas pantai (offshore) dan di PT Arun. Fasilitas ini dibangun untuk mengolah 450 MMSCFD gas alam dari lepas pantai sebagai tambahan bahan baku gas alam dari ladang arun di Lhoksukon yang semakin berkurang. Tanggal 16 Maret 1974, PT Arun didirikan sebagai perusahaan operator. Perusahaan ini baru diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 19 September 1978 setelah berhasil mengekspor kondensat pertama ke Jepang (14 Oktober 1977). Pembangunan 6 unit pengolahan (train) pencairan gas alam di kilang LNG Arun melalui beberapa tahapan, yaitu: Train 1,2 dan 3 (Arun Project 1) dibangun pada awal tahun 1974 dan selesai pada akhir tahun 1978 oleh Bechtel Inc. Train 4 dan 5 (Arun Project II) dibangun Februari 1982 dan selesai pada akhir tahun 1983 yang dikerjakan oleh Chiyoda. Train 6 (Arun Project III) dibangun pada bulan November 1984 dan selesai pada September 1986 yang dikerjakan oleh Japan Gas Corporation (JGC). Pada Februari 1987, kilang LPG yang dinamakan Arun LPG Project dibangun dan dikerjakan oleh Japan Gas Corporation (JGC). Kilang ini selesai pada tahun 1989.
Kini, usai sudah masa kejayaan gas Arun. Gas alam yang menjadi ikon kebanggaan, tinggal kenangan. Hanya cerita nostalgia yang mampu “mengabadikan” gas Arun. Seiring gas Arun berakhir, beban sosial pun siap menghadang. Tentu saja yang paling menonjol adalah pengangguran dan kemiskinan.
Yang menarik ladang Gas Arun memang menjadi “saksi” munculnya beberapa peristiwa penting di Aceh. Salah satunya adalah konflik Aceh yang nyaris mencapai tiga dekade (1976-2005). Menguti laman baranom.wordpress.com bahwa Gas Arun yang semestinya membawa berkah bagi rakyat Aceh, – khususnya yang berada di sekitar PT Arun NGL – justru menjadi “musibah” bagi perekonomian Aceh di masa mendatang. Sebab, seiring meluasnya konflik Aceh yang dilatarbelakangi kegagalan seseorang yang bernama Hasan Tiro menjadi kontraktor gas Arun, status Sabang sebagai pelabuhan bebas pun dicabut oleh Pemerintah Pusat (Jakarta), yang disebabkan aksi penyeludupan senjata dari luar negeri melalui Sabang oleh gerakan Hasan Tiro. Aceh pun bersimbah darah. Pihak yang paling menderita akibat gejolak adalah masyarakat. Penembakan, penculikan, penyiksaan, pemerkosaan, pembodohan, dan berbagai macam hal berkonotasi negatif lainnya, merupakan keseharian yang terus dialami oleh rakyat Aceh semenjak gas Arun beroperasi; yang diiringi dengan aksi bersenjata gerakan Hasan Tiro. Kemiskinan yang masih merebak, dijadikan sebagai “pintu masuk” Hasan Tiro merekrut para pemuda di wilayah pelosok Aceh, – di bagian pesisir timur-utara Aceh – yang selanjutnya dikirimkan ke Tajura (Libya) untuk berlatih taktik gerilya bersenjata pada tahun 1980-an. Negeri yang pada masa itu dipimpin oleh Muamar Khadafi, memang menjadi tujuan banyak kelompok bersenjata dari banyak negara.
Monumen yang didirikan di tempat gas Arun pertama kali ditemukan pada 18 November 1971. (wikipedia)

Monumen yang didirikan di tempat gas Arun pertama kali ditemukan pada 18 November 1971. (wikipedia)

Seperti ditegaskan diatas penemuan Gas Arun pertama kali ditemukan pada 18 November 1971. Gas alam yang terkandung di bawah desa Arun memiliki cadangan yang diperkirakan mencapai 17, 1 triliun kaki kubik. Perusahaan yang mendeteksi adanya kandungan gas dalam jumlah besar di Aceh itu adalah Socony Vacuum Oil Company, yang merupakan perusahaan minyak milik Amerika Serikat, yang kelak bergabung dengan Exxon pada tahun 1999 dan membentuk perusahaan Exxonmobil. Pada 19 September 1978, Presiden Soeharto meresmikan kilang pencairan gas alam (LNG) Arun dalam kunjungannya ke Aceh.
Presiden Soeharto menandatangani naskan peresmian proyek LNG Arun. [Dok. Departemen Penerangan RI]

Presiden Soeharto menandatangani naskan peresmian proyek LNG Arun. [Dok. Departemen Penerangan RI]

Penemuan sumber gas alam, serta bukti yang menguatkan kandungannya yang berjumlah besar setelah dilakukan eksplorasi lanjutan, memungkinkan pihak Pertamina mempercepat realisasi gas alam tersebut.

Kilang LNG pun dibangun di desa Blang Lancang, yang terletak sekitar 15 Km dari kota Lhokseumawe dan 32 Km dari lapangan gas Arun. Karena letaknya yang jauh, maka sarana penunjang yang dipersiapkan sebagai pelengkap dari kilang LNG pun dilakukan. Seperti, sistem telekomunikasi, jalan, pelabuhan untuk barang dan pengapalan LNG, bandara, dan perumahan.

Kilang LNG dibangun dengan kerjasama kontrak bagi hasil antara Exxonmobil Indonesia dan Pertamina. Pembangunan kilang LNG dilakukan oleh Bechtel Inc., yang telah banyak berpengalaman dalam proyek pembangunan kilang LNG serta proyek-proyek besar lainnya, yang tersebar di banyak negara.

Sedangkan pihak yang melakukan pencairan gas dilakukan oleh Air Products and Chemicals Inc. Kedua perusahaan yang terlibat dalam pembangunan kilang LNG dan pencairan gas alam Arun berasal dari Amerika Serikat. Ini menambah jumlah perusahaan Amerika Serikat yang terlibat dalam eksplorasi dan eksploitasi gas Arun.

Situs baranom.wordpress.com juga menyebutkan tidak heran, negeri paman Sam sangat berkepentingan dalam sumber daya alam (SDA) di Aceh. Pelanggaran HAM yang menimpa sejumlah warga Aceh di kemudian hari, diduga melibatkan pihak Amerika – selain militer Indonesia. Bahkan terdapat indikasi yang kuat bahwa pihak Amerika Serikat melalui Exxonmobil membiayai penyiksaan terhadap masyarakat Aceh yang dilakukan oleh oknum-oknum militer Indonesia.

Kasus ini pernah bergulir di Mahkamah Agung Amerika Serikat sebagai lembaga hukum negara yang tertinggi dan sangat dihormati. Walaupun di kemudian hari kasus ini “tenggelam”. Gugatan yang dilakukan 15 warga Indonesia asal Aceh ini terhadap perusahaan Exxonmobil dikenal sebagai John Doe II v. Exxonmobil Corp.

Eksploitasi SDA Indonesia yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan Amerika Serikat yang menimbulkan masalah bagi penduduk pribumi Indonesia, juga terjadi di Papua.

Melalui Freepot miliknya, perusahaan Amerika Serikat jelas-jelas merugikan penduduk yang berada di sekitar lokasi pertambangan. Dari sisi ekonomi, Indonesia sebenarnya lebih banyak merugi daripada mendapatkan untung.

Sebab, hasil yang didapatkan oleh perusahaan Amerika Serikat lebih besar dibandingkan pajak atau bagian yang diberikan kepada Indonesia, yang jumlahnya sangat minim.

***

Dalam upaya mengidentifikasi kejelasan jumlah gas yang terkandung dalam bumi Arun, Waktu itu pemerintah Pusat di Jakarta menggandeng konsultan dari De Goyler & Mc. Naughton. Perencanaan teknis dan perincian biaya dilakukan pada Januari 1974 di San Francisco (Amerika Serikat), London (Inggris), dan Jakarta (Indonesia).

Persiapan sudah dimulai pada awal Januari 1974, sedangkan alat-alat dan bahan-bahan konstruksi mulai tiba pada awal 1975.

Pembangunan kilang LNG pada puncaknya melibatkan sekitar 8.000 pekerja, yang tidak hanya berasal dari Indonesia; tetapi juga melibatkan pekerja dari mancanegara, seperti Amerika Serikat, Australia, Kanada, Inggris, India, Jepang, Korea, Filpina, Singapura dan beberapa negara lainnya. Mengenai tenaga kerja dalam proyek gas Arun, tidak banyak penduduk lokal (Aceh) yang terlibat pembangunan mega-proyek tersebut. Kemungkinan pada masa itu, belum banyak tenaga kerja lokal – kecuali beberapa orang saja – yang paham tentang pembangunan proyek gas Arun.

Wajah lokal yang lazim terlihat, hanya bertindak sebagai security atau satpam. Mereka lebih sering dilibatkan untuk menjadi “pemadam kebakaran”, jika ada protes dari masyarakat terhadap pihak PT Arun NGL.

Minimnya tenaga kerja lokal yang profesional di bidang perminyakan dan gas bumi, kemudian ditindaklanjuti dengan pendirian Politeknik Negeri Lhokseumawe pada 5 Oktober 1985, yang dahulunya bernama Politeknik Unsyiah di Buket Rata.

Pendiriannya dapat dikatakan “agak” terlambat dan ditambah lagi, hanya jenjang pendidikan diploma yang diutamakan. Padahal diperlukan minimal jenjang pendidikan sarjana untuk dapat diposisikan jabatan profesional di perusahaan besar seperti PT Arun NGL.

Hal ini jelas memperlihatkan bahwa pendidikan yang dipersiapkan hanya untuk bekerja di “lapangan”, bukan sebagai tenaga kerja “kantoran”.

***

Gas alam Arun telah tiada. Cerita tentangnya telah memasuki “masa lalu”. Beban berat harus diemban oleh Pemerintah Provinsi Aceh untuk mengatasi masalah sosial dan mencari sumber pendapatan baru bagi daerah.

Persiapan yang nyaris tiada, membuat perekonomian Aceh masih tertatih-tatih untuk layak dikatakan mencapai kondisi makmur dan sejahtera bagi masyarakatnya. Dana otonomi khusus (otsus) yang tersedia, belum tentu dapat mengatasi permasalahan sosial yang bermunculan seiring berakhirnya riwayat gas Arun.

Sebab, pada tahun 2027 dana otsus Aceh akan berakhir. Provinsi Aceh mau tidak mau diharuskan untuk mandiri dalam menciptakan sumber pendapatan baru. Tanpa persiapan seperti pasca-gas Arun, tentu saja beban sosial akan bertambah berat.

Oleh karena itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Aceh perlu “bercermin” dari peristiwa sebelumnya dalam mempersiapkan segala kebutuhan menyangkut perekonomian daerah. Karena berharap sumber pendapatan daerah pada SDA seperti gas Arun hanya akan berujung pada “khayalan”. Kini, riwayat gas Arun pun sudah tamat.

PT Arun merupakan salah satu penyumbang devisa terbesar bagi kota Lhokseumawe dan Indonesia.

Ladang gas

Menurut data-data pengukuran elektronik melalui film-film yang diambil di lapangan dan dianalisis di pusat analisis Mobil Oil di Dallas, Amerika Serikat, ladang gas Arun terletak di dalam lapisan batu gamping pada kedalaman 10.000 kaki (3.048 meter). Kandungan gas mencapai 17,1 triliun kaki kubik dengan tekanan 499 kg/cm, suhu 177 °C, dan ketebalan 300 meter. Jumlah tersebut diperkirakan akan dapat mensuplai enam unit dapur pengolahan (train) dengan kapasitas masing masing 300 juta SCFD (Standard Cubic Feet Day) untuk jangka waktu 20 tahun. Ladang gas tersebut terdiri dari empat (4) buah kluster gas dan kondensat, kemudian gas dan kondensat dikirim ke unit pengumpulan di Point “A” yang selanjutnya dikirim ke kilang LNG Arun dengan memakai pipa:

  • Gas menggunakan pipa berdiameter 42 inch.
  • Kondensat menggunakan pipa berdiameter 16 inch.
  • LPG propana menggunakan pipa berdiameter 20 inch.

Kilang LNG Arun di Blang Lancang meliputi daerah seluas 271 ha dengan panjang 1,7 km dan lebar 1,5 km serta dilangkapi dengan pelabuhan khusus pengangkut produksinya.

Kilang LNG Arun dilengkapi dengan 2 buah pelabuhan LNG untuk pengiriman produksinya ke negara pembeli, sedangkan untuk pengiriman kondensat dilengkapi dengan 2 buah sarana pemuat, yaitu Single Point Mooring (SPM) dan Multi Buoy Mooring (MBM).

Gas alam di ladang NSO memiliki kandungan H2S dan CO2 yang tinggi sehingga diperlukan proses pemisahan terlebih dahulu sebelum masuk ke train LNG. Upaya ini dilakukan untuk menurunkan kadar H2S dari 1,59% menjadi 80 ppm dan CO2 dari 33,21% menjadi 25,54% mol, sehingga sesuai dengan spesifikasi rancangan train LNG.

Kekayaan migas Indonesia tinggal kenangan, sementara Turki kini sedang menjadi kekuatan Migas duni menyusul Arab Saudi dengan Aramco. Saya jadi ingat komentar dan pandangan kawan saya Ardian Nengkoda yang  merupakan tokoh dari SPE Journal of Petroleum Technology (JPT) Editorial Committee. Lead Facilities Development Aramco yang mengatakan bahwa SKK MIGAS yang punya target 1 juta barel per hari dipandangny target yang tidak mudah alias impossible.

Ardian bilang ini cukup susah, secara pribadi saya sampaikan ini, 10 tahun dari saat ini. Kalau kita bicara masih punya 128 cekungan dan 68 cekungan belum  terekplorasi dan itu punya harapan. Dan kita projeksikan, challange, trade yang ada apakah mungkin 10 tahun? “Kalau saya susah sekali, SKK MIGAS dan pemerintah sudah bilang ada empat strategi pertama eksplorasi masif intensif, enhanced oil recovery (EOR)-nya sendiri 4-5 tahun. Oke 2025 katakan dan production saya khawatirnya miss.  Jadi soalnya investor sendiri tak lihat Indonesia,”paparnya.

“Tidak sekadar eksplorasi fokusnya banyak harusnya membuat paket-paket fiskal term yang menarik. Jadi 10 tahun itu imposible sangat susah. Kita impor 800 barel perhari, tidak oke subjek migas sebagai komoditi itu. Kita lihat indonesia populasi ke 4 demografi strateginya perlu perhitungan menutup lubang cari alternatif lain. Sehinga kita bisa nutup 800 ribu barel kita.

Ditambahkan Ardian bahwa SKK Migas harus ada terobosan-terobosan inovasi dan supply change manajemen dan terobosan birokrasi jadi konsisten peraturan itu penting. Bagaimana investor akan datang kalau kita tak menyakinkan. Jadi perlu effort semua, entah pemerintah, SKK Migas, praktisi, dan lainnya semua elemen bangsa. Bahwa ini masalah serius.

“Kalau bisa Migas ini jadi strategic energy  bukan lagi migas sendiri. Saya juga melihat energy mix dari Dewan Energi Nasional) DEN harus berperan penting bukan sekadar pelengkap organisasi dalam struktur organinasi yang struktut besar, tapi DEN harus punya gigi lebih dan ini harus dilihat migas itu geo politic opportunity. Energi mix bermain dan ketahanan upstream harus kuat.”jelasnya.

Ardian lebih tegas menambahkan bahwa kita candu migas, terlepas transport minyak bumi sebagai fuel bahan kimia lain. Ada multiplayer, tax kecil ada instrumen lain, karbon tax, dll. Ada konsep howard energy diwujudkan untuk melihat biaya yang diperlukan produksi, kualitas dan energi lain.

“Bagi Indonesia konsep demografi tapi sebagai energy strategic,  selama ini miss konsepsi akan kaya raya bahwa kita kaya akan migas, sebenarnya itu salah itu. Harusnya bagaimana mampu memenuhi pertama kebutuhan energi. Kedua kebutuhan lain  berdasar dari minyak bumi, setiap area indonesia memiliki  potensi sumber daya alam yang luar biasa,” tegas kawan baik saya ini.

Ardian melihat bahwa kalau bandingkan Singapura tak punya apa-apa, mereka tak punya migas,  tak punya cadangan tapi mampu memenuhi managemen minyak bumi, dari sisi ekonomi kemampuan membiayai besar. Dan ini tak bisa di copypaste  Indonesia. Nah harusnya Indonesia mendekati migas bukan sekadar  komoditi tapi strategi energi manajemen yang siampaikan tadi. “Nah itu mungkin dari saya bisa menjadi fokus baru negara kita,” katanya.

Dalam beberawa waktu lalu Kementerian ESDM memang telah telah menetapkan kebijakan pembukaan data dengan harapan bisa memudahkan calon-calon investor.Dikatakan Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto bahwa KemESDM telah mengatakan ada “Tiga Sumatra, 3 Kalimantan, 1 Jawa, 1 Sulawesi, 4 di Indonesia timur, termasuk Papua ada 10, dan plus 2 fokus deep water,” ungkapnya.

Di sisi lain, target lifting migas Indonesia setiap tahun terus mengalami penurunan dengan sejumlah faktor seperti decline rate lapangan migas, dan juga tekanan dari faktor eksternal.

Sebelumnya, Menteri ESDM Arifin Tasrif menuturkan bahwa asumsi Harga Minyak Mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) dalam Rancangan APBN 2021 disepakati sebesar US$42—US$45 per barel.

Target lifting minyak dan gas bumi (migas) dipatok sebesar 1,68 juta hingga 1,72 juta barel setara minyak per hari (barrel oil equivalent per day/boepd).

Secara terperinci, target lifting minyak dipatok pada kisaran 690.000—710.000 barel per hari dan lifting gas bumi sebesar 990.000 boepd—1,01 juta boepd. Sementara itu, cost recovery ditetapkan senilai US$7,5 miliar—US$8,5 miliar.

Nah dengan taget 1 juta Barel per hari, apakah betul Indonesia mampu 1 juta barel seperti 2006? Kita tak tahu, dan jika tulisan ini berkisah Turki dan Arun ini hanya sekadara ingi memori saja kita dulu pernah punya Arun. Itu saja. |aendra/berbagaisumber (MIGSANESIA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here