SHARE

MIGASNESIA.COM – Laju pertumbuhan populasi dan ekonomi Indonesia serta peningkatan konsumsi per-kapita, maka kebutuhan akan listrik terus meningkat. Pemenuhan kebutuhan listrik sangat tergantung pada ketersediaan energi yang dibutuhkan, sehingga sinergi pemanfaatan energi fosil (batu bara, gas bumi dan minyak bumi) dengan energi terbarukan dan energi baru makin penting demi menjamin keberlangsungan pertumbuhan sektor ketenagalistrikan Indonesia, terrmasuk peningkatan akses energi dari area terpencil hingga ke area perbatasan di Indonesia.

Oleh karena itu, PennWell -sebuah perusahaan penyelenggara pameran industri dan konferensi berskala internasional – bekerjasama dengan Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia (MKI), menyelenggarakan forum “POWER-GEN Asia/Hari Listrik Nasional ke-73”, mulai 18 hingga 20 September 2018 di International Convention Exhibition (ICE) BSD, yang mana akan mengumpulkan sejumlah pakar, praktisi dan regulator sektor ketenagalistrikan untuk mendiskusikan upaya pencapaian energy mix yang paling ideal dalam mendorong keberlangsungan sektor ketenagalistrikan nasional.

Pada tahun 2050, kebutuhan batubara akan meningkat tajam sebesar lebih dari 5 kali lipat dari tahun 2015. Di tahun itu diperkirakan pertumbuhan energi akan sebesar 7.1% per tahunnya dimana sektor yang paling tinggi mengonsumsi energi listrik berasal dari rumah tangga dan industri.

“Untuk itu, pengelolaan energi nasional harus berubah, dari energi sebagai komoditas ke energi sebagai penggerak roda ekonomi. Realitanya energi dan terutama listrik kita masih sangat mengandalkan batubara,” kata Heru Dewanto, Sekretaris Jenderal MKI di Jakarta, Jumat (14/9).

Menurut Heru, data RUEN menyebutkan porsi batubara sebagai energi primer tahun 2015 adalah 27% dan naik sedikit menjadi 30% tahun 2025. Sedangkan porsi batubara sebagai energi untuk pembangkitan listrik berdasar data RUKN memang akan menurun dari 56% tahnu 2015 dan 50% tahun 2025. Fakta ini mendorong kita untuk memanfaatkan batubara secara lebih efisien dan bersih melalui “clean coal technology” yang salah satu aplikasinya adalah PLTU Supercritical, Ultra Supercritical.

Sementara itu, Muhammad Sofyan, Wakil Ketua Bidang EBTKE-MKI menyampaikan: “Dengan mengusung tema keberlanjutan (sustainability) sektor ketenagalistrikan nasional, bauran energi antara fosil dan energi terbarukan untuk keberlanjutan infrastruktur ketenagalistrikan sebagai upaya pemenuhan kebutuhan tenaga listrik nasional akan semakin dibutuhkan. Pemerintah pun bertekad terus meningkatkan porsi energi baru terbarukan (EBT) sebagai sumber energi primer dalam bauran energi pembangkit listrik nasional. Berdasarkan data dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), kontribusi EBT bertambah 2% dalam tiga tahun menjadi 12.15% pada akhir 2017.

Pertumbuhan 2% dalam 3 tahun tidak cukup untuk mengejar target KEN 23% tahun 2025. Untuk itu pemerintah pun perlu menyiapkan kebijakan dan regulasi, membangun ruang fiskal, dan menyediakan ruang-ruang insentif yang ada untuk investasi guna perkembangan energi terbarukan. “Dengan ekosistem industri yang kondusif, pihak swasta pun dapat mendorong terjadinya kemitraan yang menguntungkan, meningkatkan transfer teknologi dan investasi,” kata Sopyan.

Riki F. Ibrahim, Dewan Pakar MKI yang juga Dirut PT Geo Dipa Energi ( persero ) menyampaikan, penjualan sebagian listrik Energi Terbarukan proyek baru masih memerlukan subsidi, namun diyakini harga listrik Energi Terbarukan Panas Bumi jangka panjang, akan lebih murah dibandingkan dengan harga listrik fosil (PLTU Batubara dan PLTGas) karena mengikuti harga pasar. PT Geo Dipa Energi (Persero) sangat mungkin memberikan harga listrik dari Panas Bumi/Geothermal yang paling ekonomis karena menggunakan pinjaman yang bersifat soft loan dari Multilateal Bank (ADB dan World Bank sebagai perbankan yang berkarakteristik non-profit) atau bank bilateral yang memberikan pinjaman melalui skema G to G, didukung Kementrian Keuangan.

“Fasilitas dan prioritas sebagai BUMN ini tidak akan berdampak pada PLTP swasta karena besarnya target pengembangan geothermal nasional sesuai KEN yaitu 7,3 GW tahun 2025 dan 17 GW tahun 2050. Ini saatnya menaikkan TKDN PLTP,” kata Ricky.

Pada kesempatan yang berbeda, Dr. Heather Johnstone, Direktur Acara POWER-GEN Asia mengatakan, menjamin ketersediaan energi bagi keberlangsungan sektor ketenagalistrikan merupakan respon atas meningkatnya kebutuhan energi nasional, seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan bertambahnya jumlah penduduk. Ketersediaan energi memegang peranan penting dalam mendukung pembangunan perekonomian negara. “Sehingga PennWell merasa terhormat dapat bekerjasama dengan MKI dalam menyelenggarakan acara ini di Indonesia dan memberikan pemahaman lebih dalam kepada para pemangku kepentingan yang diharapkan akan ditindaklanjuti dengan langkah nyata yang berguna bagi pengembangan sektor ketenagalistrikan Indonesia. Diharapkan kemitraan Power-GEN Asia dengan HLN ini bisa menarik lebih banyak lagi mitra industri dan investor baik nasional maupun internasional,” pungkasnya. |Rachmat Edy/MIGAS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here