SHARE
Neneng Goenadi, Country Managing Director Accenture Indonesia dan Mark Teoh, Managing Director – Resources Operating Group Accenture /KRD

MIGASNESIA.COM – Accenture untuk kedua kaliya melakukan survei tahunan mengenai peran teknologi digital dalam mendukung industri minyak dan gas bumi (migas). Bertajuk “The Intelligent Refinery”, survei tersebut melibatkan 170 eksekutif, manajemen mid-level, unit bisnis dan insinyur perusahaan migas dari 48 negara.

“Riset ini menunjukkan pentingnya investasi di bidang digital, yang bahkan memberikan manfaat finansial. Berdasarkan survei, 30% responden mengungkapkan bahwa teknologi digital telah meningkatkan margin keuntungan perusahaan mereka lebih dari 7% dalam 12 bulan terakhir,” kata Managing Director-Resources Operating Group Accenture, Mark Teoh di kantor Accenture, Jakarta (31/7/2018).

Menurut Mark Teoh ada 20% dari responden mengatakan implementasi teknologi digital dapat menambahkan nilai bisnis US$ 50 juta–US$ 100 juta atau lebih. Sedangkan 33% responden menyatakan nilai tambahan yang diperoleh sebesar US$ 5 juta–US$ 50 juta.

“Manfaat finansial yang dapat langsung dirasakan ini menunjukkan mengapa lebih dari separuh (59%) perusahaan yang terlibat dalam survei yang sama tahun lalu, saat ini tengah meningkatkan investasi mereka pada teknologi digital dibandingkan dengan 12 bulan yang lalu,” jelas Mark.

Selain dalam finansial, survei ini pun memotret bahwa 56,4% berdampak positif terhadap keandalan dan perawatan, 50% terhadap perencanaan produksi, dan 47,1% terhadap eksekusi produksi.

Teknologi mutakhir yang dapat memberikan nilai tambah, termasuk diantaranya adalah teknologi sensor Internet of Thing (IoT) dan teknologi edge computing, gabungan realitas dan virtual (mixed reality), mobilitas (mobility) dan blockchain/smart contacts.

Pemaparan hasil survei Accenture ‘The Intelligent Refinery’ lima tren 
transformasi digital di sektor minyak dan gas manfaat implementasi 
teknologi digital untuk finansial perusahaan.Sementara itu Country Managing Director Accenture Indonesia, Neneng Goenadi 
mengatakan, teknologi digital memungkinkan perusahaan menjadi lebih 
terhubung, namun, sekaligus meningkatkan kerentanan perusahaan akan beragam 
risiko digital. Demikian, kebutuhan akan investasi digital terus 
meningkat agar perusahaan dapat mempersiapkan diri terhadap 
ancaman-ancaman siber.

Untuk menjaga operasional perusahaan, investasi dalam kemampuan keamanan dasar (fundamental security capabilities) sangat penting.

Dalam survei ini, Indonesia turut menjadi bagian yang disurvei. “Indonesia ada di survei ini juga. Tapi karena di sini refinery oil and gas itu nggak banyak, jadi tak signifikan. Kalau secara global, sepertiga-nya itu Asia Pasifik dan di sana ada Indonesia,” kata Neneng. | EDY/KEN, foto-foto KRD

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here