SHARE
pkspiyungan.org

MIGASNESIA – Indonesia Akan Impor Gas dari Singapura, benarkan Perusahaan Gas Kita akan Bangkrut?

Persoalan Gas memang akan ditentukan dengan harga minyak dan  tahun 2017 Ini (sebagai feed) ke kilang memang sedikit lebih tinggi dibanding tahun lalu (year to year)
Indonesia seharusnya ada instrument lain Untuk menambah pendapatan:
Tambah produksi Upstream  Tahan expenditure opex lewat inovasi dan efisiensi, Tambah customer gas, Tambah customer BBM jenis lainnya misalnya petralite

Strategy lainnya jangka panjang percepat pembangunan kilang.

Maka sangat aneh jika RI akan impor LNG dari Singapura yang tak punya ladang gas Ini ironi.

Sebuah sumber menyebutkan kalau lihat mendalam, untuk buat investasi migas kita menarik sepertinya harus solusi 3 dimensi 1. Dimensi UU
2. Dimensi perijinan dan kemudahan usaha
3. Dimensi trust
“Tanpa itu sulit. Bidding Gulf of Mexico Minggu lalu yang baru juga gak laku itu,”kata sumber Migasnesia yang asih enggan disebutkan Namanya.

Kata sumber tadi Total caplok Maersk, ini ganas dan sebuah kelesuan Migas dunia.

Yang ini juga perlu terobosan 3 dimensi diatas bisa begitu saja revisi gross split. Harus ada reformasi total 3 dimensi itu.

“Migas Indonesia itu kendala Untuk menarik investor bukan sekedar candy-candy split yang menarik. Namun reserve cadangan kita memang kecil sebagai portfolio dibanding cadangan migas di negeri lain, sehingga yang Harus di jual adalah integrated economic
Upstream downstream,” beber sumber Migasnesia tegas.

Apakah ini karena sudah habis dikuras?

“Bukan,  karena kegiatan explorasi Kita sejak 10 tahun terakhir berkurang, penemuan cadangan baru hampir tidak ada. Cadangan itu bisa nambah. Istilah nya reserve replacement RR, selain itu memang sudah habis juga sih,” tegasnya.

Dalam Bahan Sosialisasi Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi & Sumber Daya Mineral Jakarta, 31 Juli 2017 tentang RANCANGAN PERMEN HARGA JUAL GAS BUMI MELALUI PIPA PADA KEGIATAN USAHA HILIR MIGAS disebutkan Landasan Hukum  Pasal I PP No. 30 Tahun 2009 tentang Perubahan atas PP No. 36 Tahun 2004 tentang Kegiatan Usaha Hilir Minyak dan Gas Bumi: “Harga Bahan Bakar Minyak dan Gas Bumi diatur dan/atau ditetapkan oleh Pemerintah”. Dan Pengaturan Meningkatkan pemanfaatan gas bumi untuk kebutuhan dalam negeri  Menjamin terpenuhinya hak Konsumen Gas Bumi. Menjamin kepastian Harga Jual Gas Bumi Hilir dengan mempertimbangkan: Daya beli konsumen gas bumi Kesinambungan penyediaan dan pendistribusian gas bumi Tingkat keekonomian yang wajar bagi Badan Usaha pemegang Izin Usaha Niaga Minyak dan Gas Bumi.

Jika saat  tawaran harga murah, Indonesia berencana mengimpor gas alam cair (liquid natural gas/LNG) dari Singapura. Rencana impor itu tampaknya sudah mendapat lampu hijau dari Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman. Sedangkan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) masih pikir-pikir.

Lantas bagimana periusahaan gas negara? Apakah sudah akan bangkrut? Anehnya jelas kan Singapura sebagai negara kota sama sekali tidak memiliki ladang gas. Diduga Singapura menampung gas dari berbagai negara dan dijual ke negara-negara yang membutuhkan.

Indonesia sebagai penghasil gas terbesar ke-14 dunia membutuhkan impor gas? Apalagi selama ini produksi gas Indonesia lebih banyak diekspor, sedangkan proporsi penggunaan gas untuk kebutuhan energi nasional baru sekitar 17 persen.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan menyebut, impor LNG dari Singapura itu dipengaruhi oleh hubungan politik kedua negara. Maka, kesepakatan impor akan ditanda-tangani saat pertemuan antara Indonesia dan Singapura.

Kepada wartawan Luhut menyebutkan, pemerintah memiliki dua opsi untuk mendatangkan LNG dari Singapura. Pertama, adalah opsi pertukaran penggunaan LNG (swap), dan kedua opsi murni impor dari Singapura. “Kalau mereka kasih harga yang menarik, kami pertimbangkan dong. Kan ujung-ujungnya ke harga jual masyarakat juga,” sambut Luhut.

Berdasarkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2017 hingga 2026, pembangkit listrik tenaga gas akan mengambil porsi 26,7 persen dari bauran energi (energy mix) di tahun 2026 sesuai Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2017 hingga 2026 mendatang.

Untuk memuluskan rencana di atas  Indonesia membutuhkan gas sebanyak 1.193 Trilion British Thermal Unit (TBTU), atau tiga kali lipat dibanding tahun 2016 sebanyak 606,5 TBTU. Dari jumlah itu, sebanyak 851 TBTU, atau 71,33 persen dari kebutuhan gas bagi pembangkit akan disediakan dari LNG.

Namun Kementerian ESDM sendiri masih pikir-pikir dengan rencana impor gas dari Singapura. Paling tidak pemerintah akan mempertimbangkan harga jual LNG yang akan digunakan untuk pembangkit listrik itu.

Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar mengakui, pimpinan Keppel Corporation sebagai pihak yang akan mendatangkan LNG dari Singapura sudah menyambangi kantornya beberapa waktu lalu. Sejauh ini Arcandra masih mengevaluasi tawaran itu. “Saya sudah panggil company-company itu, saat ini kami sedang evaluasi,” ucap Arcandra, di Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (22/8) malam.

Arcandra tidak mengelak, satu diantara pertimbangan impor LNG dari Singapura adalah persoalan harga. Toh begitu dia mengaku masih pikir-pikir dengan tawaran harga regasifikasi dan transportasi LNG di angka US$3,8 per MMBTU hingga US$4 per MMBTU, dan belum memasukkan harga gas hulunya. Maka dia khawatir harga impor LNG yang diterima bisa lebih besar dari ketentuan yang ada saat ini.

Berdasarkan Peraturan Menteri ESDM Nomor 45 Tahun 2017, harga gas LNG maksimal harus 14,5 persen dari harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) di pembangkit listrik (plant gate). Dengan patokan ICP ICP bulan Juli sebesar US$45,48 per barel, maka harga gas di plant gate harus berada di angka US$6,59 per MMBTU. Dengan patokan itu, biaya regasifikasi dan transportasi yang ditawarkan perusahaan Singapura tercatat 57,66 persen hingga 60,69 persen dari harga gas maksimal yang diperbolehkan pemerintah.

“Semua hal-hal yang berkaitan tawaran impor harus hati-hati dievaluasi. Nah, US$3,8 per MMBTU hingga US$4 per MMBTU itu setahu saya baru regasifikasi dan transportasi. Kalau harga impornya mahal, maka nanti yang kena ya harga listrik ke bawah,” terang Arcandra.

Lucunya lagi, di tengah rencana impor LNG dari Singapura, Direktur Gas PT Pertamina (Persero) Yenni Andayani masih kebingungan mencari pembeli untuk 36 kargo LNG tahun ini. Sebab diantara 164 kargo LNG yang diproduksi hingga akhir tahun, baru 138 kargo saja yang memiliki komitmen pembeli. “”Akhirnya 36 kargo ini kami lempar ke pasar spot, dilakukan tender. Delivery mungkin baru bisa di akhir tahun nanti. Semua LNG ini dari produksi Badak NGL di Bontang,” terangnya.

Sebenarnya, berapa impor gas Indonesia selama ini? Dengan proporsi penggunaan energi hanya 17 persen dari keseluruhan energi, sebenarnya sayang sekali Indonesia membuang energi murah ke luar negeri dan mendatangkan energi seperti minyak bumi ke Indonesia dengan harga yang relatif lebih mahal. Mengutip data dari BP Statistical Review of World Energy 2015, produksi gas Indonesia hampir dari 2 kali lipat dari kebutuhan konsumsi sebagai terlihat pada Tabel di bawah ini :

Dengan demikian produksi gas Indonesia lebih banyak dikapalkan ke luar negeri. Padahal untuk kebutuhan energi dalam negeri gas baru menyumbang proporsi 17 persen. Artinya andaikata tidak diekspor pun keseluruhan gas belum mampu menjangkau setengah dari kebutuhan energi dalam negeri. Tabel berikut ini menjelaskan besaran ekspor gas ke sejumlah negara dalam kurun waktu yang sama.

Tidak mengherankan apabila rencana ekspor itu dikecam oleh sejumlah kalangan. Bahkan Direktur Eksekutif Reforminer Institute Komaidi Notonegoro, heran dengan rencana itu. “Agak lucu Singapura ekspor gas ke kita, mereka kan enggak punya sumber gas sama sekali,” kata Komaidi kepada wartawan, Rabu (23/8) pagi.

Komaidi tidak memungkiri adanya perkiraan Indonesia memerlukan impor gas pada 2019 atau 2020 nanti. Terutama untuk memenuhi pembangkit listrik. Namun alangkah baiknya kalau Indonesia membeli langsung ke negara produsen seperti Iran atau Qatar. Harganya pasti lebih murah ketimbang membeli dari Keppel Offshore and Marine, perusahaan asal Singapura yang hanya pedagang perantara.

Komaidi juga meragukan harga LNG dari Singapura bisa lebih murah daripada gas lokal sebagaimana diungkap Menteri Luhut. Sebab, LNG harus dikapalkan dulu ke Indonesia, ada biaya shipping. Setelah sampai, LNG harus diregasifikasi, lalu dialirkan melalui pipa, ada tambahan biaya lagi. “Kalkulasi saya, harga gasnya jadi lebih mahal, kan butuh shipping, regasifikasi, setelah itu lewat pipa ada tol fee,” terang Komaidi.

Mengutip keterangan Arcandra, Keppel Offshore and Marine menawarkan harga angkutan, termasuk shipping dan regasifikasi US$3,8 per MMBTU hingga US$4 per MMBTU, ditambah dengan harga LNG-nya sendiri yang di Singapura mencapai US$ 4/MMBTU, maka harga LNG hingga ke tempat tujuan mencapai US$7,8 hingga US$8 per MMBTU yang berarti tidak lebih murah dari harga pasokan dalam negeri yang secara total juga sekitar itu.

Apakah akan bisa ada solusi agar badan PGN dan Pertamina Gas yang punya satu lubang Gas kolaborasi agara mnenyelamatkan supaya tidak impor? Karean jika Pertamina mengklaim seperti diatas, maka dikabarkan sumber di lingkran PGN salah satu direksinya masih kosong bagian strategi sehingga PGN tidak punya strategei kedepan, dan terlalu bengkak BUMN ini. Jika dibiarkan maka PGN terancam bangkrut juga karena selalu selama tiga bulan ini dnegan Dirut Jobi belum ada terobnosan, PGN pada 2020 harus bayar hutang cukup besar. Jadi jika PGN sudah begini maka bisa jadi solusi Gas kita tak terkendali. Maka impor menjadi. |dbs/MGS/RON

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here