SHARE

MIGASNESIA – Ada hal yang ganjil dalam tender PLTGU Jawa 1. Ini kata Pengamat Energi dari UGM, Fahmi Radhi bahwa munculnya kabar bahwa PT PLN (Persero) membatalkan pemenang tender PLTGU Jawa 1 dan akan menunjuk langsung anak usahanya untuk menggarap proyek tersebut adalah salah.

“Sangat tidak boleh dilakukan oleh PLN karena menyalahi prosedur,” ujar Fahmi saat dial dengan MIGASNESIA lewat sambungan WA, Ahad¬†(07/01/2017).

Pihak PLN sendiri yang mengumumkan konsorsium Pertamina-Marubeni-Sojitz sebagai peringkat pertama peserta tender dan pemenang tender PLTGU Jawa I sudah diketahui publik karena penawaran paling murah, setelah pengumuman, seharusnya kontrak jual beli disepakati pada pertengahan Desember 2016 atau 45 hari setelah PLN mengumumkan pemenang tender. Ternyata jadwal tersebut tak dipenuhi PLN alias molor.

“Molor kontrak proyek PLTGU Jawa I tersebut menunjukkan PLN tidak profesional, PLN inginnya energi dia yang pasok, padahal pemenang tender itu yaitu konsorsium pertamina dan Marubeni yang punya kemampuan dan sudah tepat,” tegas Doktor Ekonomi Energi jebolan NewCastle Inggris ini.

Masih kata Fahmi mundurnya kontrak, apalagi jika terjadi pembatalan pemenang tender, akan berpengaruh pada proyek 35.000 MW yang dibebankan kepada PLN. “Jika di revisi jadi 22.000 MW pun saya pesimis tercapai kalau PLN mundur dan molor seperti kini,” lanjutnya.

Fahmi menilai, harusnya konsentrasi pada pengadaan pembangkit. Untuk yang lainnya serahkan pada pemenang tender, jangan semua diambil PLN tapi PLN nya gak ada kemampuan. Tugas utama PLN adalah pengadaan listrik 35.000 MW.

“Jika pembatalan kontrak terjadi, ia setuju KPK harus turun tangan karena pasti ada masalah serius yang bisa saja terkait KKN. (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme). “KPK harus dari awal turun tangannya agar tidak seperti proyek2 PLN yang lain. Harus diusut apakah ada ketidak beresan,” desaknya.

Diketahui dalam tender PLTGU Jawa 1, sejumlah konsorsium bertarung. Selain konsorsium Pertamina-Marubeni-Sojitz ada konsorsium Mitsubishi Corp-JERA-PT Rukun Raharja Tbk-PT Pembangkitan Jawa Bali; konsorsium PT Adaro Energi Tbk-Sembcorp Utilities PTY Ltd; konsorsium PT Medco Power Generation Indonesia-PT Medco Power Indonesia-Kepco-dan Nebras Power.

Nah, harga listrik yang ditawarkan konsorsium Pertamina-Marubeni-Sojitz `hanya’ USD 0,055 per kWh. Harga tersebut relatif lebih murah dibanding peserta tender lainnya. Sebut saja konsorsium Adaro menawar USD 0,064 per kWh, dan konsorsium Mitsubishi menawarkan USD 0,065 per kWh.

Direktur Utama PLN Sofyan Basir  bahkan mengatakan bahwa PLN memilih pemenang tender berdasarkan harga jual listrik yang paling rendah, teknologi yang digunakan, hingga kesiapan lahan untuk membangun. Semua komponen itu menjadi penilaian besar bagi PLN.

“Harga yang pasti, lalu teknologinya. Kan sudah dihitung semua, berapa akhir di ujungnya, berapa per kWh, gas itu berapa, sudah termasuk gas juga kan,” kata Sofyan.

Namun kala itu Sofyan belum mau membocorkan siapa yang menjadi pemenang tender PLTGU dengan kapasitas besar yakni 2×800 megawatt (MW) tersebut. Lalu siapa yang sedang kongkalikong? |MGS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here