SHARE

Luhut mengatakan, calo gas tersebut saat ini telah menguasai bahkan mememiliki alokasi gas dari pemerintah. “Kami akan bertahap habisin itu calo gas,” tegas dia di Jakarta, Kamis (29/12) dilansir eksplorasi.id

Dia menjelaskan, para calo gas sudah tersebar dari hulu sampai hilir. Bahkan, calo-calo gas tersebut sudah bekerjasama satu sama lain. “Masak dia (calo) punya gas, tapi tidak punya pipa. Tidak punya pipa tapi punya gas, nggak begitu,” jelas dia.

Luhut lalu memberi contoh salah satu ulah dari calo gas yang membuat industri di Medan, Sumatera Utara harus membayar gas bumi lebih mahal daripada yang seharusnya.

Dia menambahkan, para calo gas tersebut adalah pemain kelas menengah yang bisa mengatur harga gas seenaknya. “Itu pemain middle-middle, trader-trader dikurangi itu yang tidak diperlukan, supaya harga gas bisa turun,” ujar dia.

Komentar Luhut, harga gas di Medan bisa sangat mahal akibat adanya permainan harga.” Masak di Medan itu harga gas hampir USD 14 per MMBtu? tidak benar itu,” jelas dia.

Sekedar informasi, data Kementerian ESDM menunjukkan, ada sekitar 45 industri besar yang membeli gas bumi sebesar USD 12,22 per MMBtu.

Gas yang berada di wilayah tersebut berasal dari dua sumber yaitu dari LNG dari Kilang LNG Bontang, Kalimantan Timur dan Sumut pipa gas dari Pertamina EP di Sumatera.

Sebelumnya, Kementerian BUMN juga mengungkapkan bahwa selama ini PT Pertamina (Persero) menjual gasnya ke 23 trader yang tidak memiliki infrastruktur.

Edwin Hidayat Abdullah, Deputi Bidang Usaha Energi Logistik Kawasan dan Pariwisata Kementerian BUMN, mengatakan, selama ini persoalan tingginya harga gas belum bisa teratasai.

Salah satu penyebab utama mahalnya harga gas tersebut adalah panjangnya rantai pasok dari tangan produsen ke konsuman yang dikendalikan oleh trader alias calo. |EP/mgs

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here