SHARE

Setelah Pertamina ISC menolak 2 kargo minyak bodong yang disuplai oleh Glencore, terpaksa Pertamina harus merugi dengan membeli minyak mentah pengganti di pasar bebas dengan harga lebih mahal.

Hal itu terpaksa dilakukan untuk menghidari kilang berhenti beroperasi yang juga bisa menyebabkan kelangkaan BBM di masyarakat. Setelah mempelajari kejadian tersebut, Direktur CERI, Yusri Usman menjelaskan adanya perubahan drastis prosentase formula “coktail Crude” dari yang seharusnya komposisi minyak Sarir (70%) dengan Mesla (30%), menjadi minyak Sarir (30%) dan minyak Mesla (70%). Secara harga, bisa terjadi selisih lebih murah sekitar USD 10 per barel.

Maka Yusri mengatakan bahwa penegak hukum khususnya KPK, sudah bisa melakukan penyelidikan terkait timbulnya dugaan manipulasi ini.“Karena penolakan yang dilakukan ISC itu bisa jadi hanya karena informasinya bocor. Kalau tidak, bisa jadi minyak itu masuk kilang dan sangat merugikan Pertamina dalam hitungan keekonomiannya. Bahkan, bisa merusak komponen kilang,” kata Yusri pada klikanggaran, Jumat (23/09/2016)Apalagi, menurut Yusri, di samping minyak Libia yang disuplai oleh Glencore, ada juga minyak “Aseng” 600.000 barel ke kilang Balongan dan minyak “Bonny Light” ke kilang Balikpapan.“Yang harus disampling oleh penegak hukum adalah minyak mentahnya, untuk dianalisa pada laboratorium yang harus dirahasiakan dari pihak mana pun. Agar dapat diketahui apakah sfesifikasi tehnis minyak mentah yang disuplai itu telah sesuai dengan yang tercantum tercantum dalam kontrak,” lanjut Yusri.

Hal tersebut dalam hemat Yusri perlu dilakukan karena dalam hal kualitas, dalam hal inilah permainan sering terjadi, selain juga permainan jumlah volume yang diterima di kilang.

“Jadi kita jangan terkecoh dengan harga murah yang sering disebut sebagai sebuah prestasi ISC Pertamina itu,” tandas Yusri.

Yusri menegaskan bahwa KPK harus memonitor pergerakan 2 kapal tangker yang telah keluar dari perairan Indonesia, yaitu kapal MT Tatiki dan MT Stavenger Blossom yang membawa kargo minyak bodong yang telah ditolak ISC Pertamina.

“Karena ditakutkan, bisa saja dangan modus, memindahkan ke kapal lain dan masuk lagi ke kilang Pertamina. Waspada! Kita tidak mau terulang kasus “Crude Zatapi” yang konon berasal dari langit, karena tidak jelas asal usul sumber asli minyak mentahnya. Ini terjadi pada priode Arie Soemarno jadi Dirut Pertamina,” tutup Yusri. |MGS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here