SHARE
vibiznews

MIGASNESIA – Pemerintah hingga kini masih terus berupaya menurunkan harga gas bumi untuk industri.
Pasalnya, rata-rata harga gas untuk industri di dalam negeri masih tergolong tinggi yakni berkisar USD8-10 per mmbtu.

Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto mengatakan keputusan final terhadap harga gas untuk industri ini sebelum disampaikan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi), masih harus kembali didiskusikan pada tahap Kementerian Koordinator bidang Perekonomian.

Rencananya, diskusi ini akan dilaksanakan pada hari ini, namun tidak diketahui pasti tepatnya pada pukul berapa.

“Harga gas industri belum, nanti kita akan rapat di Menko. Kemarin saya sudah bicara dengan Pak Darmin,” ucapnya saat ditemui di Gedung BPPT, Jakarta, Senin (19/9/2016). Untuk skenario harganya, Airlangga memastikan tetap menggunakan beberapa simulasi penurunan harga gas mulai dari USD6 per million metric british thermal unit (mmbtu), USD5 per mmbtu, dan USD4 per mmbtu.

Dari ketiga skenario harga gas di hulu tersebut, akan terlihat berapa penerimaan negara yang berkurang. “Skenario sudah dibuat, seperti itu, tapi dirapatkan dulu,” tuturnya.

Sekadar informasi, Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartato menilai rata-rata harga gas untuk industri, yaitu USD8-10 per mmbtu, tidak ideal.

Sebab, harga tersebut tergolong tinggi, terutama jika dibandingkan dengan harga gas industri di beberapa negara ASEAN. Sebagai pembanding, harga gas industri di Singapura sekitar USD4-5 per mmbtu, Malaysia USD4,47 per mmbtu, Filipina USD5,43 per mmbtu, dan Vietnam sekitar USD7,5 per mmbtu. |oz

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here