SHARE
ilustrasi

Industri dalam negeri mengeluhkan tingginya harga gas bumi dibandingkan negara tetangga. Sebenarnya mengapa harga gas ke industri bisa mahal?

Sebagai contoh, harga gas bumi ke industri di Medan, Sumatera Utara, yang mencapai USD12,22 per MMBTU, padahal menurut data Kementerian Perindustrian, harga gas di Singapura hanya sekitar USD4,5 per MMBTU, Malaysia USD4,47 per MMBTU, dan Filipina USD5,43 per MMBTU.

Berdasarkan data Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) dikutip Senin (19/9/2016), di Medan, ada sekitar 45 industri besar yang membeli gas bumi dari PT Perusahaan Gas Negara (PGN) sebesar USD12,22 per MMBTU.

Tapi ternyata PGN hanya mengutip biaya sangat kecil yakni hanya USD1,35 per MMBTU. Biaya tersebut diambil atas pengelolaan dan pendistribusian gas bumi melalui pipa sepanjang 600 km hingga sampai ke industri di Medan.

Lantas, bila PGN hanya mengutip USD1,35 per MMBTU ke industri, mengapa harga gas industri di Medan sangat mahal?

Berikut rincian harga gas di Industri khususnya di Medan:

Pertama, pasokan gas ke industri di Medan terbagi atas dua sumber yakni dari LNG dari Kilang LNG Bontang, Kalimantan Timur dan Sumut pipa gas dari Pertamina EP di Sumatera.

Untuk sumber pertama dari LNG Bontang, LNG tersebut merupakan alokasi gas yang ditetapkan Kementerian ESDM dan SKK Migas untuk industri di Medan. Harganya USD7,8 per MMBTU. Hampir 63 persen komposisi harga gas ke industri di Medan berasal dari harga gas di hulu. Artinya harga gas bumi ke industri sejak awal sudah mahal.

Kedua, LNG dari Bontang tersebut kemudian di regasifikasi di Terminal Regasifikasi Arun, Lhokseumawe, Aceh. Biaya proses regasifikasi atau menjadikan gas alam cair jadi gas bumi dikenakan USD1,5 per MMBTU. Lalu ditambah dengan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yakni USD 0,15 per MMBTU, jadi total USD1,65 per MMBTU.

Ketiga, gas bumi dari Terminal Regasifikasi Arun diangkut melalui pipa trasmisi Arun-Belawan milik PT Pertamina Gas (Pertagas) sepanjang 350 km. Pertagas mengenakan biaya angkut gas sebesar USD2,53 per MMBTU dan ditambah PPN sebesar USD0,25 per MMBTU, sehingga total USD2,78 per MMBTU.

Keempat, setelah dari Pertagas, gas bumi tersebut harus melalui keran perusahaan trader gas. Masalahnya perusahaan ini tidak memiliki fasilitas pipa sama sekali. Trader gas tak bermodal fasilitas ini memungut biaya margin sebesar USD0,3 per MMBTU.

Lalu, trader gas tak bermodal ini mengenakan lagi biaya yang namanya Gross Heating Value (GHV) Losses sebesar USD0,33 per MMBTU.

Tak cukup sampai disitu, trader gas tak bermodal ini juga mengenakan Own Used & Boil Off Gas (BOG) sebesar USD0,65 per MMBTU serta Cost of Money sebesar USD0,27 per MMBTU. Total, trader tak bermodal tersebut memungut USD1,55 per MMBTU.

Lalu, sumber gas dari produksi Pertamina EP dikenakan USD8,24 per MMBTU, kemudian diangkut melalui pipa transmisi gas bumi Pangkalan Susu-Wampu yang dikelola Pertaggas dengan biaya USD0,92 per MMBTU termasuk pajak.

Dengan dua sumber gas tersebut di campur menjadi satu, lalu dibagi volume gas masing-masing pasokan, maka harga rata-rata gas bumi sebelum dibeli oleh PGN sebesar USD10,87 per MMBTU. Kemudian oleh PGN diteruskan ke pelanggan industrinya dengan biaya yang dikenakan USD1,35 per MMBTU. Sehingga ujungnya industri-industri di Medan membeli gas bumi dengan harga USD12,22 per MMBTU. |oz

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here