SHARE

MIGASNESIA – Dua negara produsen minyak crude terbesar dunia, Rusia dan Arab Saudi telah setuju untuk bekerja sama dalam menstabilisasi harga minyak. Namun, kesepakatan kerjasama tersebut tak mencantumkan persetujuan tentang penghentian produksi minyak, memicu spekulasi bahwa kedua pihak masih tak bersepakat tentang hal tersebut.

“Kami telah menyusun beberapa poin tentang aksi bersama untuk stabilisasi harga minyak,” kata Menteri Energi Rusia, Alexander Novak, disela-sela pertemuan G-20 di Hangzhou, Tiongkok.

Kendati joint action tersebut diklaim dapat menaikkan harga minyak 5,5 persen, namun belum ada keterangan konkrit tentang bagaimana cara mencapai hal tersebut.

Sementara itu, Menteri Energi Arab Saudi Khalid  Al-Falih masih menolak bahwa pembatasan produksi adalah cara yang  tepat untuk mengintervensi pasar, sembari menambahkan bahwa pasar telah bergerak ke arah yang bagus.

Sebelumnya, Presiden Rusia Vladimir Putin menekankan pihaknya akan mempersuasi negara-negara kartel minyak (OPEC) untuk menyetujui proposal pembatasan produksi dalam pertemuan informal di Aljazair pada akhir September ini.

Dalam wawancara dengan Bloomberg beberapa waktu lalu, Putin mengatakan bahwa Arab Saudi-lah yang sebenarnya tak menginginkan pembatasan produksi.

Hal ini memperkecil kans negara-negara OPEC untuk mencapai kesepakatan.

Ditambah, posisi Iran, produsen terbesar ketiga, dengan tegas mengatakan akan kooperatif jika produsen lain menghormati hak Iran ‘untuk mengklaim pasarnya kembali’, setelah pemberlakukan embargo diakhiri.

Sementara itu, produsen minyak lainnya seperti Kuwait, Uni Emirat Arab dan Qatar telah menyatakan dukungan terhadap kesepakatan Rusia-Arab Saudi tersebut.

Sedangkan AlJazair tetap menegaskan pentingnya untuk membatasi produksi.

“Harga dibawah USD 50 tak dapat diterima, karena negara butuh pendapatan untuk investasi dan mengembangkan produk,” kata Menteri Energi Aljazair Noureddine Bouterfa.

Kemarin Harga minyak dunia pada  kembali menguat terbatas setelah kurs dolar Amerika kembali melemah dengan minyak Brent diperdagangkan di level USD 46,9 per bare, atau naik tipis 7 sen.

Sementara itu, minyak crude tak berajak dari harga USD 44,44 per barel, namun hal ini didorong oleh hari libur buruh di Amerika. |MGS/RMN/RUS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here