SHARE
Nagasaki di bom / thebulletin.org

MIGASNESIA – Dr. Tatsujiro Suzuki, Direktur Pusat Riset untuk Penghapusan Senjata Nuklir di Universitas Nagasaki membincangkan tentang apa yang dibutuhkan untuk mewujudkan dunia tanpa senjata nuklir.

Dilansir dari NHK Suzuki mengatakan perbedaan terbesar pada tahun ini adalah kunjungan Barack Obama selaku presiden AS yang menjabat pertama ke Hiroshima pada bulan Mei lalu.

Sejak kunjungan tersebut ada peningkatan minat di Hiroshima dan Nagasaki dari para pemimpin politik serta orang-orang di luar negeri. Suzuki meyakini dengan berkunjung ke kota-kota yang dibom atom dan bisa memberikan gambaran aktual atas apa yang terjadi di bawah awan jamur bisa memberikan perbedaan besar dalam kebijakan-kebijakan politik serta tindakan dalam jangka panjang, bahkan meski mereka tidak bisa secara langsung mengungkapkannya dalam kata-kata.

Warga di Hiroshima dan Nagasaki mengharapkan pada akhirnya akan mengarah pada aksi untuk melucuti senjata nuklir.
Sementara itu PBB tengah membahas kerangka kerja hukum menuju pelarangan senjata nuklir, tetapi ada kesulitan besar yang dihadapi setiap negara dalam pembicaraan tersebut.
Sayangnya, perseteruan bukan hanya meningkat di antara negara-negara pemilik atau tidak memiliki senjata nuklir, tetapi juga di antara sesama negara yang tidak memiliki senjata nuklir seperti Jepang yang berada di bawah payung nuklir dan negara-negara non-nuklir lainnya.

Beberapa aksi dibutuhkan untuk meringankan perseteruan guna mencegah perpecahan ini. Dilaporkan bahwa Presiden Obama telah memutuskan untuk mengupayakan resolusi Dewan Keamanan PBB pada bulan September yang akan menyerukan negara-negara untuk menghentikan uji coba nuklir.

“Jika terwujud maka akan menjadi sebuah langkah besar. AS juga dilaporkan tengah mempertimbangkan kebijakan untuk tidak menggunakan senjata nuklir terlebih dahulu. Suzuki meyakini hal itu adalah kebijakan yang harus didukung oleh Jepang, sebagai satu-satunya negara di dunia yang pernah dibom atom, tetapi sayangnya pemerintah Jepang bersikap tidak aktif atas hal tersebut,” ujarnya.

Suzuki meyakini Jepang memiliki tanggung jawab untuk bertindak sebagai jembatan antara negara pemilik senjata nuklir dan non-nuklir.

“Pemerintah Jepang secara resmi mengatakan akan berupaya untuk mengurangi peran senjata nuklir. Jadi Suzuki menilai mulai sekarang penting untuk mengambil aksi untuk membuat kerangka kerja keamanan yang tidak tergantung dengan senjata nuklir,”tutupnya. | RN/nhk

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here