SHARE
ilustrasi

MIGASNESIA – Dalam rangka mengembangkan energi baru terbarukan (ETB) yakni pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). PT Pertamina (Persero) secara resmi menggandeng tiga Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yaitu PT LEN Industri, PT Energi Management Indonesia dan PT Sarana Multi Infrastruktur.

Vice President Corporate Communication Pertamina Wianda Pusponegoro mengungkapkan, menggandeng ketiga BUMN tersebut merupakan sinergi yang juga dapat memanfaatkan lahan-lahan yang belum dimanfaatkan milik Pertamina dan BUMN lainnya.

“Sinergi BUMN ini diharapkan dapat mendorong implementasi EBT di Indonesia yang akan dimulai dengan target hingga 60 MW pada tahun 2017 di wilayah Sumatera Utara dan akan dilanjutkan pengembangannya selama tiga tahun ke depan hingga mencapai target 200 MW, dengan memanfaatkan sejumlah lahan idle milik Pertamina yang tersebar di beberapa wilayah di Indonesia,” terang Wianda di Jakarta, Minggu (3/4/2016).

Lebih lanjut Wianda menjelaskan, khusus untuk pembangkit listrik tenaga surya, pemerintah telah menargetkan kapasitas terpasang mencapai 5.000 megawatt (MW) pada 2020. Untuk itu Pertamina akan ikut membangun PLTS sebesar 1.000 MW.

Selain itu pengembangan EBT akan tetap disesuaikan dengan kemampuan serap kapasitas jaringan PT PLN (Persero) yang sudah ada di lokasi-lokasi tersebut. PT SMI sebagai lembaga pembiayaan infrastruktur sangat diharapkan dukungannya untuk mencarikan dana-dana ‘hijau’ yang banyak dikucurkan oleh negara-negara maju sehingga keekonomian proyek menjadi menarik.

“Sementara LEN merupakan BUMN industri strategis yang telah memiliki fasilitas produksi solar modul dan telah memiliki aset operasi PLTS 5 MW di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Energi Management bertanggung jawab sebagai konservasi energi dan energi terbarukan,” tuturnya.

Nantinya proyek-proyek yang akan dikembangkan dalam sinergi BUMN ini akan terus mengedepankan prinsip-prinsip komersial dan memenuhi tata kelola perusahaan yang baik untuk menjadi pionir dalam pengembangan EBT di Indonesia.

“Dengan skala yang makin masif dan pengembangan yang intensif di seluruh Indonesia, tentunya biaya pembangkitan listrik dari energi baru dan terbarukan akan terus mendekati biaya pembangkitan dari energi konvensional,” tutup Wianda. (REZA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here