SHARE

MIGASNESIA – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said mengaku akan menghadiri pertemuan Organization of Petroleum Exportir Countries (OPEC) pada (17/3/ 2016 ) di Doha, Qatar. Acara yang dihadiri oleh petinggi-petinggi negara besar ini akan menyikapi tentang rendahnya harga minyak dunia yang sudah berlangsung sejak Juli 2014.

Pemerintah Indonesia sendiri, kata Sudirman, akan sangat berhati-hati dalam mengambil keputusan. Hal itu dikarenakan Indonesia bukan hanya negara eksportir minyak, tapi juga sebagai importir. Walaupun Indonesia masih bisa menerima manfaat dari penurunan harga minyak. Devisa yang dikeluarkan untuk impor tidak terlalu banyak.

“Pemerintah Indonesia memerlukan penguatan harga minyak dunia agar tidak terlalu memukul produsen minyak, agar investasi di sektor hulu migas tetap menarik,” ujar Sudirman pada media di Jakarta, Selasa (29/3/2016).

Lebih lanjut, Sudirman mengatakan Indonesia akan bersikap netral di dalam forum tersebut. Guna memperoleh kebijakan yang baik bagi minyak dunia.

“Itu yang akan kami sampaikan di sana (forum OPEC). Tentu saja kami mengambil posisi netral apa yang terbaik bagi harga minyak,” jelasnya.

Selain itu, Mantan Dirut PT Pindad ini juga akan mencoba melobi beberapa negara produsen untuk memasok minyak ke Indonesia. Hal ini dilakukan agar cadangan minyak di Indonesia bisa memiliki cadangan penyangga nasional mencapai 30 hari.

“Selama ini Indonesia belum punya cadangan penyangga untuk mengatasi kondisi darurat, disini kami akan mulai bicara apakah mereka bisa membantu. Meski begitu semua tergantung pada ketersediaan dan syarat dan ketentuan kerjasamanya,” terangnya.

Seperti diketahui, sejak 2014 harga minyak terus menunjukan penurunan yang segnifikan, bahkan banyak negara-negara yang bergabung di OPEC ikut terpukul, termasuk Arab Saudi.

Di Indonesia, menurunnya harga minyak ke titik merah juga berdampak pada industri hulu migas. Bahkan beberapa kontraktor migas terpaksa menunda kegiatan eksplorasinya dan mengurangj tenaga kerjanya karena minyak terus mengalami keterpurukan.

Murahnya harga minyak juga berdampak besar bagi penerimaan negara di sektor migas. Salah satunyabdapat dilihat pada pendapatan bersih pemerintah setelah dikurangi dengan cost recovery atau klaim biaya oleh kontraktor migas hanya sebesar Rp 173 triliun. Sehingga dapat dilihat jika jumlah pendapatan ini terus merosot dibandingkan tahun 2014 yang mencapai Rp 381 triliun. Sehingga dengan adanya pertemuan ini diharapkan harga minyak dunia kembali menunjukan titik hijau. (REZA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here