SHARE

MIGASNESIA – Menanggapi pernyataan Dewan Energi Nasional/DEN tentang Indonesia harus mengurangi ekspor gas guna mengurangi angka devisit, Direktur Jenderal Minyak dan Gas/Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral/ESDM, I.G.N Wiratmaja Puja mengaku jika hal tersebut tidak mudah dilakukan.

Dia menuturkan, mengurangi ekspor memang tidak mudah dilakukan. Terlebih untuk kontrak gas yang sudah lama ditandatangani. Hal itu dikarenakan telah diatur dalam kontrak bagi hasil atau production sharing contract mengenai minyak atau gas yang menjadi milik kontraktor. Sehingga dapat dipastikan para kontraktor berhak menjual gas tersebut kemanapun.

“Permintaan DEN untuk setop ekspor, tidak bisa ekspor disetop seenaknya,” ujar dia kepada media di Jakarta.

Diakui Wiratmaja, saat ini banyak kendala yang dialami untuk menghentikan langkah tersebut. Meski demikian pemerintah tetap menargetkan dapat mengurangi ekspor gas dalam beberapa tahun ke depan.

Dalam perhitungan persentase ekspor gas bumi akan dikurangi dari 41 persen tahun 2016, sehinga hasil tersebut menunjukan angka 0 persen pada 2040. Sementara untuk ekspor minyak pun dikurangi menjadi hanya 15 persen dalam 10 tahun ke depan.

Sebelumnya DEN meminta pemerintah Indonesia untuk merubah kontrak gas. Permintaan tersebut dikarenakan 2020 akan mengalami defisit gas dan harus ada impor gas. Anggota DEN Tumiran mengatakan, salah satu yang dirubah dalam kontrak gas yang baru adalah porsi ekspor yang harus dikurangi guna memenuhi kebutuhan dalam negeri. (REZA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here