SHARE
imenno

MIGASNESIA – Dewan Energi Nasional (DEN) meminta pemerintah Indonesia untuk merubah kontrak gas. Permintaan tersebut dikarenakan 2020 akan mengalami defisit gas dan harus ada impor gas.

Anggota DEN Tumiran mengatakan, salah satu yang dirubah dalam kontrak gas yang baru adalah porsi ekspor yang harus dikurangi guna memenuhi kebutuhan dalam negeri.

“Kontrak-kontrak jangka panjang kan tidak boleh diubah, karena nanti bisa mengganggu perjanjian. Tapi kontrak yang baru, kami pertimbangkan betul,” ujar Tumiran di Jakarta.

Dari data DEN, kebutuhan energi pada 2016 mencapai angka 4.270 juta kubik per hari/mmscfd. Namun pada tahun 2050 akan mengalami peningkatan secara drastis. Dimana pengguna mencapai angka 26.754 mmscfd dengan rata-rata pertumbuhan pengguna 5 persen per tahunnya.

“Kebutuhan tersebut dihitung berdasarkan penggunaan dalam negeri antara lain kilang minyak, kilang elpiji, kilang gas alam cair atau liquefied natural gas/LNG, pembangkit listrik, industri, transportasi, rumah tangga dan komersial,” tutur dia.

Terlebih, lanjutnya, Indonesia masih memiliki komitmen ekspor gas hingga tahun 2035. Sehingga dapat dipastikan kebutuhan nasional tidak akan terpenuhi. Sehingga salah satu jalannya adalah dengan melakukan impor gas.

Dari data proyeksi DEN, impor akan terjadi pada 2020 sekitar 169 mmscfd, dan akan mengalami peningkatan sebesar 24.244 mmscfd pada tahun 2050.

Selain itu langkah yang dapat diambil oleh pemerintah dalam meminimalisir terjadinya itu adalah menggenjot eksplorasi. Hal ini berguna untuk mencari cadangan-cadangan gas baru. (REZA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here