SHARE
Istimewa

Migasnesia – Direktur Eksekutif Center of Energy and Resouces Indonesia (CERI) Yusri Usman mengungkapkan, pernyataan Menteri ESDM Sudirman Said dan Kepala SKK Migas Amien Sunaryadi terkait ‘ancaman’ perampingan karyawan Inpex Masela Ltd dan Shell Upstream Overseas Services Ltd karena molornya keputusan rencana pengembangan (plan of development/PoD) Blok Masela diduga hanyalah akal-akalan kedua pejabat dengan pendukungnya itu saja.

Secara akal sehat “Cobalah dibuka ke publik, saat ini berapa total jumlah karyawan tetap Inpex dan Shell yang ada di Blok Masela? Saya yakin tidak banyak, tidak mungkin lebih dari 200 orang, karena proyeknya belum berjalan,” ungkap Yusri kepada Redaksi sabtu pagi ( 19/3).

Dia menambahkan, ancaman yang dilontarkan dua perusahaan asing tersebut dan anehnya langsung disambut oleh Sudirman dan Amien, diduga motifnya dijadikan alat untuk menjustifikasi bahwa terjadinya pemutusan hubungan kerja akibat molornya proyek Blok Masela, karena semua ini pernyataan dari Menko Bidang Maritim Rizal Ramli dkk yang kukuh menginginkan pengembangan dengan skema di darat.

Melihat penjelasan kepada Pers yang dilakukan sendiri oleh Amin mendadak pada 16 maret 2016 malam tanpa melalui mekanisme biasanya oleh Humas SKKmigas ditangkap oleh publik lebih terkesan ini membentuk opini bahwa semua ini akibat oleh kelompok Rizal Ramli yang sering mengkritisi kebijakan pejabat yang lebih berwenang menentukan semuanya disektor energi.

“Ini ada upaya untuk mendongkel Rizal Ramli dalam rencana resuffle kabinet Presiden Jokowi setelah pasca Munaslub Partai Golkar, sehingga dengan wacana soal perampingan karyawan, sebab ini soal PHK dan penundaan investasi bisa sangat sensitif. Kenapa Sudirman dan Amien begitu sangat peduli terhadap karyawan Inpex dan Shell? Ketika banyak perusahaan migas lainnya yang juga melakukan rencana perampingan karyawannya dan sudah banyak melakukan PHK , contohnya Chevron Indonesia diawal tahun 2016 malah merencanakan PHK mencapai 1700 orang dengan pertimbangan harga minyak sudah dibawah USD 30 / bbls yang sudah tentu harus mengurai belanja modal ( Capex ) dan melakukan efisiensi biaya operasi ( opex) agar bisa tetap berjalan operasinya dan revisi POD proyek IDD Chevron Kaltim yang sudah diusulkan sejak tahun 2013 sampai saat ini juga belum ada persetujuannya dari Menteri ESDM , dan hampir semua Industri penunjang migas ditanah air sudah melakukan PHK besar besar di medio tahun 2015 , dimana kepedulian mereka ? Sekali lagi saya tegaskan ini cuma terkesan skenario akal-akalan mereka saja,” tegas Yusri.

Menurut Yusri, pengerjaan proyek blok migas bisa sangat membutuhkan banyak karyawan ketika proyek itu telah memasuki masa konstruksi, itu pun lebih banyak menggunakan tenaga karyawan subkontraktor, bukan perusahaan migas itu sendiri, tetapi faktanya dengan kondisi harga minyak dunia saat ini dibawah USD 40 / bbls hanya orang gila yang berani memutuskan investasi yang tidak feasibel dengan nilai miliaran dollar.

Kalau sedikit kita mau jujur dan memanggunakan akal sehat sebagai pebinis murni , saat ini membeli minyak mentah dan gas serta produk BBM jauh lebih untung daripada kita mengelola sumber daya alam kita , itu contoh nyata SKKMigas sudah nombok sekitar Rp 14 triliun pada anggaran tahun 2015.

Jadi sudahlah kepada Papa yang ingin menggulung pak Rizal Ramli dalam kabinet ini lebih baik bekerja saja jujur untuk kepentingan rakyat , jangan banyak buat trik skenario lah, rakyat kita sudah cerdas semunya membacanya.

Dia menambahkan, ada banyak perusahaan migas yang telah melakukan perampingan karyawan hingga ribuan orang, namun kedua pejabat itu berlaku biasa saja seakan-akan tidak terjadi persoalan , aneh ini memang.

“Belum lagi perusahaan di sektor pertambangan yang telah mengurangi banyak karyawannya. Apa pernah Sudirman Said membelanya sedemikian rupa sama seperti ketika dia membela Inpex dan Shell? Tingkah laku kedua pejabat seperti ini sudah tidak bisa didiamkan lagi , Presiden Jokowi disarankan sebaiknya segera memecat Sudirman dan Amien ,” ujar Yusri.

Sebelumnya, Kepala SKK Migas Amien Sunaryadi mengatakan, jadwal keputusan akhir investasi ataufinal investment decision (FID) proyek Blok Masela bakal mundur dua tahun, yang sebelumnya direncanakan pada 2018 akan mundur menjadi akhir 2020.

Amien menambahkan, Inpex Indonesia juga telah menginformasikan akan melakukan downsizinghingga 40 persen dari total personil di Indonesia. “Kami khawatir hal ini akan dapat menimbulkan lay off,” ujarnya.

Demikian pula, Shell telah meminta insinyurnya di Belanda, Kuala Lumpur, dan Jakarta yang semula beekerja untuk proyek Masela segera mencari pekerjaan baru di lingkungan Shell global lainnya.

Senada dengan Amien, Sudirman Said pun berkomentar, “Mereka memiliki ratusan karyawan yang disiapkan mempercepat ini. Sehingga saya kira masuk akal kalau kemudian sudah berbulan-bulan tidak ada pekerjaan yang cukup jadi mereka memutuskan mengurangi penyesuaian seperti itu,” ujar dia.(RNZ)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here