SHARE
Foto: Albert

MIGASNESIA – Dari pertemuan sejumlah tokoh yang peduli terhadap kedaulatan energi nasional, belum lama di Dermaga Cafe, tepi Sungai Musi, Palembang, pada 12 Maret 2016 lalu, terungkap bahwa negara di buat nombok oleh SKK Migas.

Hal tersebut sebagaimana diungkapkan oleh Direktur Eksekutif Center of Energy and Resources Indonesia (CERI), Yusri Usman, yang juga hadir dalam pertemuan tersebut. kata Yusri, sejak diberlakukan UU Migas nomor 22 tahun 2001 ternyata lifting migas kita turun drastis, dari yang awalnya sempat mencapai 1, 6 juta BOPD, saat ini malah tidak mampu mencapai liftingnya 800,000 BOPD.

“Anehnya, dari informasi yang dirilis terakhir oleh kepala SKK Migas pada 5 Januari 2016, menyebutkan, dalam realisasi anggarannya untuk tahun 2015 sudah membayar semuanya cost recovery untuk seluruh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) sebesar USD 13,9 miliar dan hanya mendapat revenue berupa Penerimaan Negara Bukan Pajak sebesar USD 12,86 miliar. Akibatnya kata Yusri, negara menombok biaya sebesar USD 1,04 miliar kepada KKKS,” jelas Yusri, Senin (14/3).

Sementara itu Ferdinand Hutahean dari Energy World Indonesia (EWI) bersikap keras yang melihat bahwa saat ini banyak para pemimpin bangsa ini yang sesat pikir.

“Kecuali Pak Habibie dan Bung Karno yang sangat komit dan konsekuen terhadap idiologi Trisakti dan Nawacitanya. Dan kalau melihat dari Sabang sampai Marauke bagaimana tingkat kesejahteraan masyarakat di sekitar lokasi proyek migas dan tambang, taraf hidup mereka sangat tidak signifikan,” tegas Ferdinand.(ads/mgs)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here