SHARE
Pertambangan PT Freeport Indonesia (ilustrasi).

MIGASNESIA – Menteri BUMN Rini Soemarno mengisyaratkan empat BUMN siap mengambil alih PT Freeport Indonesia. Empat BUMN itu, nantinya akan bersinergi mengelola tambang bekas Freeport. Empat BUMN itu yakni PT Aneka Tambang Tbk, PT Bukit Asam Tbk, PT Timah Tbk dan PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) Persero.

“Kalau memang ada divestasi Freeport Indonesia, dan kami diberikan kesempatan untuk membeli saham yang akan didivestasikan, kami siap (mengelola),” kata Rini di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Jumat (08/01/2016).

Namun persoalannya, untuk masuk ke Freeport, Pemerintah harus menunggu kontrak dengan perusahaan asal Amerika Serikat tersebut habis pada 2021.

“Kami dari BUMN melihat potensi tambang Freeport sangat besar. Namun (untuk masuk) tidak terlepas dari nilai perusahaan itu,” ujarnya.

Ia menambahkan, Kementerian BUMN saat ini sudah menetapkan Tim Komite Konsolidasi BUMN Pertambangan yang ditugasi antara lain mengkoordinasikan mengkaji dan merumuskan berbagai kerjasama dan sinergi bisnis ke empat perusahaan itu.

“Kami juga minta kalau ada divestasi, akan kami analisa dan evaluasi. Nanti Tim ini yang akan melakukan,” ujarnya.

Sebelumnya Rini pernah mengadang-gadang PT Inalum maupun Aneka Tambang disiapkan untuk mengambil alih Freeport.

Menanggapi hal itu, Direktur Utama Antam, Tedy Badrujaman mengakui pihaknya sedang menjajaki dan mengevaluasi untuk masuk ke Freeport.

Persoalan saat ini ujar Tedy, banyak kalangan yang seolah meragukan kemampuan Antam untuk mengelola secara langsung tambang Freeport.

Soal kemampuan, Antam memiliki tambang emas di sejumlah lokasi, seperti tambang Cikotok yang sudah digarap puluhan tahun. “Tambang emas Cikotok bahkan merupakan cikal bakal seluruh jenis tambang dalam di Indonesia yang sudah ada sejak zaman Belanda,” ujarnya.

Ia menambahkan, pengalaman Antam mengelola tambang dalam juga terbukti di Gunung Pongkor, Cibaliung, dan Gosowong.

“Tinggal skalanya saja. Ada tambang yang memang cadangannya besar, ada yang sedang ada yang kecil. Kebetulan cadangan emas Freeport sangat besar, sehingga ada anggapan Antam tidak sanggup mengelolanya,” ujarnya.

Padahal tambah Tedy, masalah kemampuan tergantung teknologi yang digunakan.

“Jangan salah paham. Di Freeport itu orang Indonesia mencapai sekitar 90 persen. Jadi jangan disangka kita tidak mampu, banyak putra-putri bangsa yang cakap dalam bidang tambang, hanua soal skala dan pengerjaannya saja,” tegas Tedy.

Secara keseluruhan, ujarnya, skala antara Freeport dengan tambang emas milik Antam tidak bisa dibandingkan begitu saja.

“Tergantung cadangan dan lokasinya dimana. Kalau kita menemukan cadangan yang lebih besar lagi tentu kita kerjakan,” ujarnya.(nt)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here