SHARE
Tambang masyarakat (ilustrasi)

MIGASNESIA – Tambang di Tasikmalaya Jawabarat makin parah. Bahkan pengrusakan lingkungan makin mengila. Tapi Pemerintahan Tasikmalaya baik Kabupaten maupun Kota tak berdaya. Berikut adalah tokoh Tasikmalaya yang juga budyawan Acep Zam Zam Noor menilai pemerintah kota dan Kabupaten Tasikmalaya tidak memiliki kepekaan dan reaksi atas terjadinya kehancuran lingkungan yang telah berlangsung selama puluhan tahun.

“Sejak Galunggung meletus tahun 1982 setelah itu terjadilah bisnis pasir secara besar-besaran mungkin sekitar 15 atau 20 tahun vulkaniknya habis kemudian merambat ke bukit-bukit ke gunung-gunung bahkan ke sawah-sawah. Itu diambil pasirnya kemudian dijual ke luar,” jelas Acep seperti dilansir Jabarsatu.com di kediamannya Selasa, (29/12).

“Ini sama sekali tidak ada reaksi dari pemerintah seolah olah membiarkan,”tambahnya.

Menurutnya kondisi ini dipicu oleh deal deal bisnis antara pemerintah daerah dengan para mafia pasir yang selalu aktif dan menggurita di setiap pergantian para penentu kebijakan.

“Memang saya tahu di sini ada mafia yang sangat rumit ya di pasir ini sehingga siapapun yang menjadi bupati atau walikota itu tidak bisa berbuat apa-apa, “tandasnya.

Sebagaimana mafhum bahwa selama 24 jam nonstop truk – truk besar pengangkut pasir Galunggung terus beroperasi.

Demikian halnya di wilayah Tasik Selatan, sejak 10 tahun terakhir penghancuran terus berlangsung hingga kini. Proyek pasir besi telah merampas keasrian alam Tasik Selatan demi pemenuhan ekspor pasir ke Cina, Korea dan Hongkong.

“Ini merupakan penghancuran baik dari bupatinya maupun dari DPRDnya karena tidak menguntungkan bagi daerah dengan cara-cara seperti ini pajaknya gak seberapa tapi kerusakan yang ditimbulkan lebih dahsyat. Sehingga dalam belasan tahun ini kita tidak melihat apa yang bisa dibanggakan dari Tasik, “pungkas pria yang akrab disapa Kang Acep itu. (tyo/jbs)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here