SHARE
ILUSTRASI

MIGASNESIA – Pada 5 Januari 2016 nanti, pemerintah berencana menetapkan harga baru bahan bakar minyak (BBM) seiring dengan melemahnya harga minyak dunia.

Namun harga BBM yang ditetapkan itu lebih tinggi dari harga keekonomian produk. Hal tersebut lantaran akan di terapkannya sistem pungutan terhadap harga jual BBM yang katanya sebagai dana ketahanan energi.

Dimana premium yang sebenarnya dibandrol Rp 6.950 per liter. Lantaran ada pungutan Rp 200 per liter maka harga jual Premium di masyarakat sebesar Rp 7.150 per liter untuk luar Jawa-Madura-Bali. Sedangkan untuk wilayah Jawa-Madura-Bali harga Premium lebih mahal Rp 100 per liter.

Adapun harga keekonomian Solar seharusnya Rp 5.650 per liter. Lantaran ada pungutan Rp 300 per liter maka harga jual Solar di masyarakat menjadi Rp 5.950 per liter.

Dan pemerintah memperkirakan dalam setahun pungutan Premium dan Solar itu bisa mencapai Rp 15-16 triliun. Namun hal tersebut sangat disayangkan oleh sebagian masyarakat, terutama masyrakat dengan tingkat ekonomi lemah.

“Zaman susah kayak gini, bukannya membantu rakyat, malah membebankan rakyat. Pemerintah beraninya jangan hanya sama rakyat kecil, dong?” kata Desi, ibu rumah tangga di bilangan Depok, Jawa Barat, Sabtu (26/12).

Desi juga menyayangkan, semua hal yang selalu dikenakan pajak oleh negara. Pasalnya, menurut Desi sejauh ini, dia tidak melihat adanya peningkatan secara ekonomi yang ditunjukan oleh pemerintah, meski kerap memungut pajak terhadap rakyat.

“Semua di kenai pajak, dari listrik dan sekarang minyak ada pajaknya juga. Sementara para koruptor yang makan duit rakyat, di dibiarkan. Tolong lah, sekali-kali pikirkan kami, jangan pikirkan diri sendiri ajah,” tandas Desi. (AY)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here