SHARE
Elan Biantoro, Kepala Humas SKK Migas

MIGASNESIA – Melihat kondisi harga minyak secara global yang terus mengalami penurunan, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) bersama-sama dengan kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) minyak di Indonesia menyepakati target produksi/lifting minyak pada 2016 sebesar 826 ribu barel per hari (bph).

Target ini lebih rendah ketimbang kesepakatan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun depan yang tercatat 830 ribu bph. Target produksi tersebut juga berada di bawah proyeksi yang diajukan KKKS minyak yang beroperasi di Indonesia, yakni 833 ribu bph.

Kepala Bagian Humas SKK Migas Elan Biantoro menjelaskan, SKK Migas pada dasarnya ingin menyamakan hasil pembahasan bersama KKKS dengan target produksi/lifting minyak di dalam APBN 2016. “Tapi, hasil pembahasan tentu harus lebih realistis,” ujarnya.

Elan pun menyikapi pendapat sejumlah kalangan yang menilai, seharusnya produksi/lifting minyak pada 2016 bisa melebihi 800 ribu bph. Dimana salah satu asumsi yang dikedepankan mereka adalah mulai beroperasi penuhnya proyek Banyu Urip (Full Scale) oleh KKKS ExxonMobil Cepu Ltd yang diprediksi dapat meningkatkan produksi Banyu Urip dari kisaran 85 ribu bph menjadi sekitar 185 ribu bph.

“Apakah ini berarti tahun depan (produksi/lifting minyak) 900 ribu (bph)? Tidak. Sebab, lapangan-lapangan minyak lain secara natural mengalami penurunan produksi minyak rata-rata mencapai 20-30 persen,” tandasnya. (AY)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here