SHARE
Inilah Freeport (Foto : dok MiGASNESIA)

MIGASNESIA – Seiring dengan bergulirnya polemik kasus Freeport, ternyata membuka tabir dan jawaban, mengapa perusahaan tambang asal negeri Paman Sam tersebut tetap ngotot untuk memperpanjang kontrak mereka.

Pasalnya ditenggarai bahwa pertambangan emas dan mineral lainnya di bumi Papua yang di garap Freeport selama kurang lebih 40 tahun tersebut, masih menyimpan potensi yang cukup besar. Di perkirakan, bahwa di pertambangan tersebut ada potensi sebesar Rp 900 triliun.

Direktur Indonesian Resources Studies (IRESS), Marwan Batubara mengandaikan, bila cadangan emas, tembaga maupun perak yang terbukti senilai USD100 miliar atau Rp1.400 triliun. Maka kata Marwan, pemerintah bisa saja akan mendapatkan sekitar Rp800 triliun-Rp900 triliun setelah dipangkas biaya produksi yang sekiranya mencapai 30 persen.

mining.com
mining.com
“Itu tergantung berapa nilainya cadangan terbukti di sana, paling sekitar USD100 miliar misalnya. Tapi itu masih pendapatan kotor. Mungkin biaya produksi, anggap 30 persen. Artinya, potensi keuntungan sekitar Rp800 triliun-Rp900 triliun,” ucapnya.

Marwan melanjutkan, nilai tersebut tak semata-mata akan berlangsung hanya untuk kurun waktu singkat, akan tetapi nilai tersebut akan berlangsung untuk dalam jangka waktu yang panjang hingga sekitar 20-30 tahun.

“Bila perhitungan tersebut tepat, maka nilai tersebut cukup besar untuk suatu cadangan pertambangan. Saya kira diakumulasikan bisa mendapatkan kita Rp500 triliunan untuk sekian lama misalnya 20-30 tahun. Untuk tambang ya Rp300 triliunan besar. Saya enggak bisa sebutkan spesifik, karena seberapa bagus kontrak yang akan diterbitkan,” jelas dia.

Sementara itu, dia mengemukakan, peningkatan potensi pendapatan negara bisa didapatkan dari faktor-faktor lain. Misalnya, bila PT Freeport Indonesia jadi melakukan IPO dan pemerintah Indonesia menjadi pemegang mayoritas saham. Ataupun, bisa saja pemerintah melakukan negosiasi guna meningkatkan royalti.

“Jadi, faktor-faktor itu masih belum bisa menjadi dasar hitung potensi pendapatan. Dalam negosiasi, kita harus maksimalkan apa yang kita peroleh. Kita harus ajukan syarat supaya persyaratan baru bisa dapatkan manfaat lebih banyak,” tandas Marwan. (AY)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here