SHARE
Upacara adat Irung-Irung,upaya pelestarian sumber mata air di desa Cihideung,Bandung Barat.Foto: Hermana

Oleh Hermana HMT

Bandung, GEOENERGI- Menyusuri Jalan Sersan Bajuri, Desa Cihideung, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, kita akan dimanjakan oleh pemandangan indah deretan kios penjual tanaman bunga hias. Di sana berbagai jenis bunga hias dikemas dalam polybag dan ditata di atas rak terbuat dari bambu, sehingga mempercantik area sekitar trotoar, juga rumah di sebelah kiri dan kanan jalan raya.

Cihideung terletak di ketinggian sekitar 1.100 meter di atas permukaan laut. Lokasinya kurang lebih 20 KM dari pusat Kota Bandung ke utara. Desa yang sejuk dan tanahnya subur untuk pertanian. Di desa itu lebih dari 80% menjadi petani bunga, 30% petani bunga potong, dan 50% petani bunga hias.

Kebutuhan tanaman bunga hias untuk perumahan, perkantoran, dan taman kota di wilayah Bandung Raya hampir suluruhnya dipasok dari Cihideung. Bahkan tanaman bunga hias dari desa itu mampu memenuhi pesanan dari berbagai wilayah di pulau Jawa, Bali, Sumatra, Sulawesi, Kalimantan, sampai ke Papua.

Apa yang menjadi rahasia kesuburan tanah Cihideung sehingga menjadi sentra tanaman bunga hias dan cukup dikenal sebagai tempat wisata bunga? Satu dari sekian banyak anugerah yang diperoleh adalah terpenuhinya kebutuhan air untuk pertanian tanaman tersebut.

“Walau kemarau cukup panjang, di sini belum pernah kekeringan. Terutama untuk petani bunga, sampai saat ini tidak kekurangan air. Setiap hari tanaman bunga hias milik saya dapat disiram, sehingga bunga tetap segar dan tidak mati karena kekeringan,” kata Herdi Herawan, petani bunga hias Cihideung, Sabtu (23/10).

Herdi yang memiliki lahan pertanian bunga hias sekitar satu hektar ini menambahkan, air yang di perolehnya tidak dari sumur, melainkan dari aliran sungai yang sumber airnya dari Irung-Irung. “Dari sanalah petani bunga di desa Cihideung mendapatkan air,” katanya.

Irung-Irung adalah sumber mata air. Masyarakat Cihideung memberi sebutan itu karena sumber mata air Irung-Irung menyerupai dua lubang irung (hidung). Meski musim kemarau, dari sana air ke luar cukup deras, apalagi di musim penghujan, dan terbilang cukup mengairi lahan pertanian atau lebih dari 300 kios bunga hias Cihideung.

“Selama musim kemarau ini tanaman bunga hias saya tidak sepenuhnya mengunakan air dari aliran sungai, tapi dari sumur pompa. Meskipun dari sumur pompa tapi airnya adalah air serapan dari aliran sungai yang sumbernya dari Irung-Irung,” ujar seorang ibu pemilik salah satu kios bunga hias.

Sumber mata air Irung-Irung sampai saat ini menjadi bagian yang tidak bisa terpisahkan dari kehidupan masyarakat Cihideung. Hal yang menarik dari kebiasaan turun temurun dilakukan masyarakat setempat dan berhubungan dengan sumber mata air tersebut adalah adanya upacara adat Irung-Irung.

Upacara adat ini merupakan ungkapan rasa syukur atas karunia Tuhan Yang Maha Kuasa dan Maha Pemberi yang telah memberi air berkucukupan untuk pertanian dan kehidupan masyarakat Cihideung.

Upacara adat tahunan ini biasanya dilakukan di bulan Agustus. Namun belakangan ini di geser ke Oktober karena di bulan Agustus bersamaan dengan bulan Ramadhan. Masyarakat tidak ingin mengganggu kekhusuan berpuasa di bulan suci tersebut, dan kesempatan kali ini, upacara adat Irung-Irung dilakukan tanggal 23 Oktober 2015.

Upacara adat Irung-Irung menjadi bagian dari pesta budaya masyarakat Cihideung. Dalam upacara adat, sebelumnya masyarakat melakukan bersih-bersih sumber mata air, aliran sungai dan karnaval menuju Irung-Irung sambil diiringi tetabuhan musik tradisional Sunda, tarian Sasapian (menyerupai sapi) dan Kuda Lumping.

Dipimpin oleh sesepuh (yang dituakan) desa, setiba di lokasi, mereka berkumpul mengitari sumber mata air Irung-Irung dan melakukan doa bersama. Jika ada orang dari pemerintahan (Kepala Desa, Camat, atau Bupati) yang hadir pemandu upacara mempersilakan diantara mereka terutama yang lebih tinggi jabatanya untuk memberi sambutan, kemudian dilanjutkan dengan melakukan penyembelihan kambing.

Hal yang tidak terlewatkan dari upacara tersebut adalah pesta turun ke kubangan di sekitar Irung-Irung. Orang tua, muda-mudi dan anak-anak yang menggunakan pakaian adat Sunda bersama-sama turun ke kubangan. Mereka saling siram air dan saling melumuri wajah dengan lumpur. Bahkan, Tidak sedikit orang yang tidak turut masuk kubangan kecipratan air atau lumpur.

Tidak ada kemarahan, tidak ada kesedihan, mereka ungkapkan rasa syukur penuh suka cita. Basah dan kotor di sekujur tubuh tidak menjadi halangan untuk meluapkan kegembiraan, karena air dan tanah bagian penting yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupannya.

Pesta upacara adat Irung-Irung tidak berhenti di situ. Setelah pulang membersikan badan dan berganti pakaian, orang-orang yang turut pesta air dan lumpur hadir pula ke panggung pertunjukan yang sudah tersedia di lapangan cukup besar, berbaur dengan masyarakat lainnya. Sambil menunggu kambing yang telah disembelih selesai dimasak dan siap dimakan bersama, masyarakat Cihideung dihibur dulu berbagai pertunjukan seni Sunda. Seni Sasapian yang menjadi ikon Cihideung kembali digelar dan aktraksinya begitu mempesona.

Upacara adat Irung-Irung bukan sekadar ritual atau pesta pora. Di sana ada pesan kearifan lokal tentang bagaimana caranya masyarakat Cihideung memuliakan air, menjaga dan melestarikan lingkungan yang merupakan bagian penting bagi kehidupannya.

Mas Nanu Munajar, seniman yang sangat aktif menghidupkan seni dan budaya Cihideung mengatakan, bahwa upacara irung-irung ini penting dilestarikan. Menurut dia, dengan adanya upacara tersebut keberadaan sumber mata air dan sungai selamanya akan terjaga, juga terpelihara.

“Menjaga sumber mata air dan lingkungan hidup artinya menjaga kehidupan. Pada saat ini beberapa wilayah di Indonesia sedang dilanda kekeringan dan kesulitan mendapatkan air bersih. Bahkan di musim hujan air berlebih dan menimbulkan banjir. Hal itu terjadi, diantaranya karena sumber mata air dan lingkungan disekitarnya sudah banyak yang rusak atau sengaja dirusak. Akibatnya semua kehidupan terganggu. Tapi di Cihideung, air senantiasa berkecukupan, ini bukan semata karena anugerah Yang Maha Kuasa, melainkan karena masyarakatnya mau memuliakan air dan menjaga lingkungannya. Salah satunya dengan melakukan upacara adat Irung-Irung,” ujarnya.

Bagi Mas Nanu upacara adat Irung-Irung merupakan perhelatan budaya dan kearifan lokal masyarakat Cihideung. Sebuah simbol pengorbanan dan simbol menghilangkan sifat kebinatangan yang bersemayam di hati manusia.

Tiap manusia dianjurkan untuk berkorban, bukan hanya sekedar menikmati enaknya hidup. Berhubungan dengan air siapapun harus mau terjun kelapangan melakukan bersih-bersih aliran sungai, parit dan memelihara keberlangsungan sumber mata air, atau memberikan sebagian hartanya untuk menjaga semua itu. Bukti pengorbanan masyarakat petani bunga hias Cihideung diantaranya mau urunan beli kambing yang disembelih dalam upacara adat Irung-Irung dan dagingnya dinikmati semua kalangan masyarakat.

Sebagai simbol menghilangkan sifat kebinatangan, diharapkan manusia senantiasa sadar diri bahwa sifat kebinatangan yang buruk akan mengakibatkan buruk pula bagi kelestarian air, lingkungan hidup dan kehidupan manusia itu sendiri. Sifat buruk itu diantaranya buang sampah sembarangan ke sungai sehingga menutup aliran sungai dan mencemari air.

Air tidak bisa dipisakan dari kehidupan manusia dan mahluk hidup lainnya. Air sangat berpengaruh dalam tubuh dan kesehatan manusia. Tubuh manusia dapat bertahan berminggu-minggu tanpa makanan, dan hanya hitungan hari seseorang bisa meninggal karena kekurangan air dalam tubuhnya.

Menurut teori bahwa tubuh manusia memerlukan masukan air setiap hari sejumlah air yang dikeluarkan dari tubuh setiap hari. Rata-rata orang dewasa mengeluarkan urine sekitar 1,5 liter setiap hari. Setiap hari kita juga kehilangan sekitar 1 liter air melalui pernapasan, keringat, dan feses. Makanan menyumbangkan 20 persen dari kebutuhan air harian, maka minum 2 liter air atau 8 gelas sehari, akan cukup untuk mengganti cairan yang keluar dari tubuh kita setiap hari.

Untuk pemenuhan jumlah air dalam tubuh kita membutuhkan akses air bersih dan higienis. Namun sanitasi yang buruk menyebabkan sulitnya pemenuhan kebutuhan air yang layak untuk dikonsumsi. Menurut catatan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), saat ini ratusan juta penduduk dunia masih kesulitan memperoleh askses terhadap air bersih dan fasilitas sanitasi dasar.

Mengingat hal itu, menjaga sumber mata air kiranya sudah menjadi kewajiban bersama. Berbagai cara bisa dilakukan, diantaranya memperbanyak ruang terbuka hijau, gerakan penanaman pohon pada lahan-lahan kritis, dan menjaga kearifan budaya lokal seperti melestarikan upacara adat Irung-Irung.

“Upacara Irung-Irung merupakan ungkapan rasa tanggung jawab bersama masyarakat Cihideung untuk menjaga sumber mata air supaya jangan sampai punah dan dikemas dalam bentuk kesenian. Inti dari upacara tersebut adalah sebuah pelestarian lingkungan atau sumber mata air yang dimanfaatkan untuk kemakmuran masyarakat Cihideung sendiri,” ujar Asep Dendih, Kepala Bidang kebudayaan Dinas Budaya dan Pariwisata Kabupaten Bandung Barat saat ditemui dalam menghadiri pelaksanaan upacara adat Irung-Irung di Cihideung, Sabtu (23/10/2015).

Ke depan masyarakat Cihideung berharap wilayah sumber mata air Irung-Irung menjadi milik bersama. Artinya milik masyarakat yang sepenuhnya dapat dimanfaatkan oleh mereka, terutama airnya sebagai sumber kehidupan, karena selama ini tanah di sekitar sumber mata air sudah dijual oleh pemiliknya pada pengembang.

“Masyarakat Cihideung sudah meminta kebijaksanaan pada pemilik baru agar sumber mata air di sana tidak diganggu dan sudah diberikan namun luasnya masih terbilang sangat sedikit. Harapan masyarakat, tanah di sana bisa dibebaskan seluas dua ratus meter persegi. Sehingga sumber mata air itu benar-benar terjaga, tanahnya dapat ditanami pepohonan besar dan dapat melakukan kegiatan upacara adat  Irung-Irung dengan leluasa. Untuk itu masyarakat Cihideung sudah meminta pada Bupati Bandung Barat agar membeli tanah di sekitar itu,” ungkap Mas Nanu.

Menjawab pertanyaan soal permintaan masyarakat Cihideung, Asep Dendih mengatakan pemerintah Kabupaten Bandung Barat saat ini sedang dalam tahap mengusahakan. Ujarnya, harapan masyarakat cukup realistis.

“Semoga saja harapan masyarakat Cihideung segera terjawab. Apabila sudah dibebaskan atau dibeli Pemda, kawasan itu tentu bisa sepenuhnya dimanfaatkan untuk menunjang kemakmuran masyarakat desa Cihideung dan upacara Irung-Irung tetap lestari,” tandas Asep.

Lahan pertanian di Cihideung tiap tahunnya semakin berkurang. Tanah milik masyarakat sudah banyak yang dijual pada pengembang, dan sumber mata airnya sudah banyak yang tertutup karena dijadikan perumahan atau bangunan lain.

Secara kasat mata, di sanalah Bandung Kota Kembang sesunggunya. Tapi, entah apa yang terjadi dengan sumber mata air Irung-Irung ke depan. Tinggal menunggu waktu, apakah akan tetap lestari atau hilang tertutup oleh perumahan baru? Lebih jelasnya, jika Irung-Irung tidak ada, artinya sumber air akan semakin berkurang dan dipastikan sangat berpengaruh pada stabilitas pertanian bunga hias di Cihideung yang selama ini menjadi salah satu pemasok tanaman bunga hias terbesar di Indonesia. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here