SHARE

KPK melakukan tangkap tangan pada Dewi Yasin Limpo, Selasa (20/10/15)

Jakarta, GEOENERGI-Dewie Yasin Limpo anggota komisi VII DPR dari fraksi Hanura, mengelak atas tuduhan menerima sejumlah uang, seperti yang dituduhkan kepada dirinya. “Jangankan menerima, melihat saja tidak sejumlah uang itu, apalagi menerima Sin$ 177.700 (Rp 1,7 miliar), saya baru dengar uang sejumlah itu,” kata Anggota komisi VII DPR dari Fraksi Hanura Dewie Yasin Limpo usai diperiksa KPK, Rabu (21/10).

 KPK saat ini masih menahan Dewie di ruang tahanan KPK, selain itu KPK juga sudah menyegel ruang kerja Dewie di DPR, meski tanpa melakukan pemeriksaan di ruang kerja Dewie.

Menurut Pelaksana tugas Wakil Ketua KPK Johan Budi, Dewie diduga menerima suap terkait dengan proyek pengembangan pembangkit listrik tenaga mikro hidro di Kabupaten Deiyai, Papua. Suap ini rencananya untuk anggaran 2016.

Selain Dewie yang juga adik Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo itu, KPK juga menetapkan empat tersangka lain. Mereka adalah sekretaris pribadi Dewie, yakni Rinelda Bandaso, dan staf ahli Dewi bernama Bambang Wahyu Hadi. Dewie beserta anak buahnya dijerat sebagai penerima sehingga dianggap melanggar Pasal 12 a atau b atau Pasal 11 Undang-Undang tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Dua tersangka lain adalah Kepala Dinas Pertambangan Kabupaten Deiyai Iranius dan seorang pengusaha, Septiadi. Keduanya merupakan pemberi suap sehingga dijerat Pasal 5 ayat 1 huruf a atau b atau Pasal 13 Undang-Undang tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.  Anggaran untuk proyek ini diduga senilai ratusan miliar. (RAE)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here