SHARE
ILUSTRASI

MIGASNESIA – Minat pada produk dan layanan baru, seperti tenaga surya dan manajemen energi, terus meningkat.

Dalam dunia digital kini yang memungkinkan perangkat untuk saling terhubung, konsumen pengguna energi lebih mempercayai perusahaan penyedia energi untuk menjaga data pribadi mereka dibandingkan menyediakan saran-saran konsumsi energi, menurut riset terbaru Accenture (NYSE: ACN).

Survei tahunan keenam Accenture kali ini mencakup lebih dari 11.000 konsumen energi dari 21 negara berbeda. Hasil survei tersebut dituangkan dalam laporan The New Energy Consumer: Unleashing Business Value in a Digital World dan menemukan bahwa sekitar 65 persen dari konsumen mempercayai penyedia energi untuk menjaga data dan informasi pribadi mengenai penggunaan energi mereka. Angka ini meningkat sampai 76 persen saat pengguna medium digital disurvei lebih dalam. Sebaliknya, hanya 36 persen melaporkan bahwa mereka mempercayai penyedia energi untuk memberikan saran-saran agar mereka dapat lebih hemat menggunakan energi. Sedangkan di Indonesia tingkat kepercayaan mencapai 84 persen dan yang percaya untuk memberikan saran dalam menghemat energi adalah tertinggi di semua responden global, yaitu 68 persen, lebih tinggi dari rata-rata.

“Dengan meningkatnya ketersediaan energi dan perangkat yang saling terhubung, akses pada data pribadi mengenai informasi penggunaan energi dan kebiasaan konsumen meningkat pula, menekankan betapa pentingnya kepercayaan dalam dunia digital. Untuk Indonesia tingkat kepercayaan tinggi, karena tidak banyak pilihan yang bisa menjadi referensi.” ujar Fuad Sahid Lalean, Managing Director for Utilities, Accenture Indonesia.

Menekankan betapa pentingnya kepercayaan digital untuk konsumen energi, hampir 61 persen dari responden survei global dan 67 persen responden Indonesia menyatakan bahwa mereka cukup nyaman jika penyedia energi mereka berbagi informasi dengan pihak ketiga, akan tetapi dengan permintaan izin sebelumnya. Selain itu, angka yang hampir sama, 62 persen dari responden survei global dan 93 persen responden Indonesia memperbolehkan aplikasi mobile milik penyedia energi untuk mengakses lokasi mereka, baik untuk memberikan informasi listrik maupun promosi.

“Selain meningkatkan kepercayaan konsumen akan amannya data pribadi mereka, penyedia energi juga dapat menggunakan informasi ini untuk mengembangkan layanan dan produk yang unik untuk masing-masing konsumen,” ujar Fuad. “Bahkan, mereka harus melakukan ini agar tetap kompetitif, apalagi mengingat bahwa hambatan masuk pasar akan di nonaktifkan dan akan ada banyak peritel digital start-up baru dari industri lain, yang tentu saja akan menawarkan solusi dan layanan baru dalam paket menarik.”

Dengan meningkatnya jumlah teknologi produksi energi yang baru, dari distributed generation sampai dengan furnitur isi ulang nirkabel, riset Accenture menemukan bahwa konsumen semakin sadar pada pengeluaran energi mereka. Sedangkan 66 persen dari konsumen global dan 86 persen konsumen Indonesia tertarik pada produk dan layanan yang dapat menghemat penggunaaan listrik. Angka tersebut meningkat dari 56 persen tahun lalu – sementara 69 persen menyatakan bahwa mereka ingin berpartisipasi dalam program manajemen energi untuk membantu hemat listrik. Untuk Indonesia, secara aklamasi, justru 97 persen responden menyatakan bersedia berpartisipasi.

Lebih dari 75 persen dari konsumen telah melakukan upaya untuk menghemat penggunaan listrik seperti instalasi bola lampu efisien energi (52 persen), mengurangi penggunaan alat listrik (34 persen), menggunakan elektronik bukan di jam puncak (28 persen), dan menurunkan temperatur termostat (28 persen). Akan tetapi, hampir 38 persen dari konsumen percaya bahwa penyedia energi tidak membantu mereka dalam perihal penghematan konsumsi energi.

Selain menghemat penggunaan listrik, konsumen makin tertarik pada konsep penyimpanan listrik mereka sendiri, seperti instalasi panel surya dan penggunaan sistem home-battery. Lebih dari 57 persen dari konsumen ingin memulai investasi pada bidang tersebut agar dapat mandiri dalam penggunaan listrik. Tentu saja, hasil survei memiliki banyak variasi, terutama untuk negara-negara yang memiliki akses pada listrik yang lebih rendah seperti Afrika Selatan, Indonesia, maupun Brazil dimana hampir 89 persen (di Indonesia sebesar 84 persen) menyatakan ingin berinvestasi pada peralatan listrik mandiri, tetapi masih ingin menggunakan jaringan listrik negara untuk berjaga-jaga.

“Penyedia energi dapat menawarkan solusi hemat baru kepada konsumen, produk dan layanan tersebut sudah cukup diincar oleh masyarakat,” ujar Fuad. “Dalam pasar yang kompetitif, penyedia energi bisa menciptakan aliran pendapatan baru dengan menawarkan solusi digital dalam penanganan produk dan layanan dalam rumah, seperti tenaga surya dan sistem penyimpanan energi lainnya, dan peralatan-peralatan hemat energi yang dapat dipaketkan dalam rumah. Dalam pasar yang sudah diatur, penyedia energi berpeluang dalam menciptakan kemitraan inovatif atau bahkan layanan dalam bentuk solusi digital. Riset kami menunjukkan terdapat minat tinggi terhadap produk dan layanan baru, terutama pada konsumen yang menggunakan medium digital untuk berinteraksi dengan penyedia energi.”

Metodologi

Survei Accenture yang telah berjalan selama 6 tahun didasarkan pada wawancara melalui kuesioner terhadap konsumen. Survei dilakukan secara online dalam bahasa asli koresponden untuk Accenture oleh Harris Interactive. Negara yang dipilih mewakili berbagai pasar kompetitif yang diatur. Pada 2015, sebanyak 11.298 wawancara dilakukan di 21 negara, termasuk 1.074 di Amerika Serikat, 640 di Inggris, 584 di Kanada, dan 500 di Argentina, Australia, Belgia, Brasil, Cina, Perancis, Jerman, Indonesia, Italia, Jepang, Belanda, Norwegia, Portugal, Singapura, Afrika Selatan, Spanyol, Swedia serta Thailand. Bagi konsumen residensial, sampel survei secara statistik mewakili populasi umum di setiap negara, dengan pengecualian dari Argentina, Brazil, Cina, Indonesia dan Afrika Selatan, di mana sampel mewakili populasi perkotaan. Untuk negara-negara dengan populasi besar dan/atau beragam, peserta dipilih dari spektrum lokasi yang luas. Survei juga mencakup pertanyaan sikap, perilaku dan demografi.(FTR/GE)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here