SHARE

Jakarta, GEOENERGI– Belum alam ini, pemerintah mengeluarkan wacana akan adanya penyesuaian terhadap harga bahan bakar minyak (BBM). Penurunan harga premium ini mengemuka ketika Presiden Joko Widodo membuka rapat terbatas soal pemangkasan izin di Istana Kepresidenan, Kamis (2/10/2015). Ketika itu, pemerintah mengaku tengah menyiapkan paket kebijakan tahap III, termasuk didalamnya mengenai penyesuaian harga BBM.

Namun ada rumor yang mengemuka bahwa pemerintah hanya akan menurunkan harga premium saja, tanpa menurunkan harga solar. Sontak rencana Presiden Joko tersebut mendapat tanggapan keras dari berbagai pihak termasuk dari DPR.

Anggota Komisi VI Fraksi Gerindra Bambang Haryo mengatakan, rencana tersebut bukti bahwa pemerintah tidak paham permasalahan ekonomi kita. “Harusnya yg diturunkan adalah BBM solar, baik subsidi maupun non subsidi. Karena jelas, solar digunakan untuk kepentingan transportasi logistik yang menunjang proses produksi di dunia industri apapun juga, mulai dari bahan mentah, setengah jadi sampai jadi, termasuk pemasarannya,” jelas Bambang dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (3/10).

Masih menurut Bambang, seharusnya pemerintah paham semua proses perdagangan yang selalu menggunakan transportasi logistik maupun publik yang menggunakan BBM jenis solar. “Bila penurunan harga terjadi pada BBM solar, maka harga barang baik manufaktur maupun pangan yang menjadi kebutuhan pokok masyarakat akan menjadi murah dan daya beli masyarakat menjadi tinggi, bukan malah pemerintah menurunkan harga premium yang hanya bermanfaat untuk transportasi pribadi yang dipergunakan banyak masyarakat kelas atas,” ujarnya.

Bambang juga menambahkan, bahwa pemerintah juga harus mengawasi Pertamina yang menurutnya banyak menipu rakyat, dimana harga BBM baik solar maupun premium secara internasional sudah jauh lebih rendah dari harga yang berlaku sekarang. “Kalo perlu Pertamina harus diaudit,” jelasnya.

Sementara itu, mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Endriartono Sutarto, menyesalkan sikap pemerintah yang sebelumnya mengatakan tidak akan menurunkan harga BBM sampai akhir tahun ini. “Pemerintah putuskan tidak merubah harga BBM sampai Des 2015. Ah sama saja sama pedagang rupanya. Kalau sudah naik, lupa menurunkan,” ungkapnya lewat akun Twitter @endrisutarto, Kamis (1/10).

Untuk diketahui, Jenderal Tarto pernah menjadi Komisaris Utama Pertamina dan mengundurkan diri pada September 2008. Menurut Menteri BUMN saat itu, Sofyan Djalil, dia kecewa karena tidak dilibatkan dalam keputusan menaikkan harga elpiji. Namun dalam sebuah kesempatan, Jenderal Tarto mengatakan dirinya tidak sampai hati melihat rakyat tetap harus antre BBM, sementara dia duduk sebagai Komut Pertamina, sebab itu dia memilih mundur dan kembali sebagai rakyat biasa. Wow! (DSU)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here