SHARE
Konferensi Pers Tim Pakar LGN-foto:Hermana

Jakarta, GEO ENERGI-Sulit dibayangkan Indonesia hanya menjadi kelinci percobaan! “Padahal berapapun besarnya investasi yang ditanam akan dibayar selama puluhan tahun oleh anak cucu kita melalui skema Cost Recobery,” kata Alhilal Hamdi pada Diskusi Tentang Blok Masela.

Para pakar LNG yang turut memabahas tentang Blok Masela, selain Alhilal Hamdi (Mantan Menakertrans) yang masuk dalam Para pakar LNG yang tergabung dalam Tim Forum Tujuh Tiga (Fortuga) ITB juga ada mantan pejabat lainnya seperti, Yoga Suprapto (mantan Dirut BUMN LNG Bontang), Ali Herman (mantan Direktur PLN), Fathurahman Saleh (mantan pejabat SKK Migas), dan Wito (CEO Cevron), mereka tidak setuju Blok Masela dikembangkan dengan pola terapung di laut.

Diskusi tentang Blok Masela ini dilakukan pasalnya, pemerintah pada 10 Oktober nanti dipaksa untuk memutuskan pengembangan proyek Lapangan Gas Abadi ini, dengan pola LNG terapung.

“Kami berkumpul di sini tidak berpihak kemana pun tapi untuk mencari kebenaran terkait proyek itu. Sebab sepertinya pemerintah tidak diberi alternatif lain selain mengembangkan Blok Masela dengan pola LNG terapung seperti dalam proposal yang diusulkan,” kata Alhilal Hamdi dalam diskusi bertema “Kekayaan Blok Masela Untuk Siapa?” di Jakarta, Selasa (6/10).

Menurut Alhilal, tanpa adanya alternatif lain sangat tidak fair dan seolah-olah Indonesia menjadi kelinci percobaan dalam proyek tersebut. Di sisi lain, ujarnya, proyek pencairan gas alam Masela terapung dengan kapasitas 7,5 ton per tahun itu bukan tanpa masalah.

Ada dua masalah teknologi yang dihadapi jika dikembangkan secara terapung di tengah laut yaitu kestabilan operasi karena goyangan kapal dan keselamatan operasi. Sebab, peralatan dipastikan berdekatan satu dengan yang lainnya.
“Sebab LNG terapung Masela berukuran panjang hampir 500 meter, lebar 75 meter dan berat berisi 600 ribu ton akan berwujud badan kapal besar di dunia. Yah ukurannya empat kali tinggi Monas dan lima kali lebih berat dari kapal induk Amerika USS Nimmitz,” kata Alhilal.

Alhilal mengingatkan, megproyek itu memakan investasi yang sangat besar dan dipastikan pembiayaannya akan ditanggung oleh generasi berikutnya, termasuk generasi yang belum lahir melalui skema cost recovery. Bahkan dia meyakini proyek yang akan bangun di atas kapal di Arafuru itu tak bakal memberikan manfaat buat masyarakat di kawasan Indonesia Timur seperti Maluku.

“Mereka bermimpi kalau LNG itu akan berlabuh. Proyek itu bak wahana luar angkasa terapung ratusan kilometer jauh dari daratan, dihuni dan dikelola entah oleh siapa dan hasilnya entah dibawa kemana. Sementara warga Maluku tetap tertinggal,” ujarnya.

Terkait pengembangan proyek itu, Tim Fortuga menurut Alhilal sudah melakukan penelitian, kajian dan perhitungan ulang serta membandingkan dengan beberapa proyek migas di darat dan di laut dari berbagai negara.
“Tim Fortuga menyimpulkan proyek pengembangan dan pembangunan blok masela, lebih baik dikembangkan di darat, karena masyarakat akan merasakan juga manfaatnya,” kata Alhilal. (RAE)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here