SHARE
Ilustrasi, Kemiri B100, foto: Geo Energi

Jakarta, GEO ENERGI– Turunnya harga minyak pada titik terendah saat ini membuat pengembangan energi baru terbarukan berbasis nabati menjadi kurang ekonomis, namun Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro dalam Dialog Energi yang diselenggarakan Dewan Energi Nasional, Jumat, 18 September 2015 menyatakan pemerintah jangan surut langkah namun harus tetep menjalankan kebijakan pemanfaatan bahan bakar nabati.

“Dalam kondisi yang seperti ini kita jangan surut, kita engga boleh mundur sedikitpun dari yang kita lakukan di diversifikasi energi dan konservasi energi khususnya untuk BBN,” tegas Bambang.

Ditambahkan Bambang, sekarang kita sudah punya bahan bakar nabati, itu alasannya kita punya BLU sawit , BLU sawit itu idenya datang dari pengusaha itu sendiri dimana dana yang dikumpulkan dari pungutan ekspor itu dipakai untuk membayar subsidi bahan bakar nabati. “ jadi clear arahnya, arahnya adalah mendorong BBN supaya Pertamina ataupun penyedia lain itu mau nyampu nah itu kita mandatorikan dan saya minta Kementerian ESDM benar-benar mengawasi dilapangan,” lanjutnya.

“Pencampuran bukan hanya oleh Pertamina tapi juga oleh PLN juga untuk yang PLTD-nya. Saya minta diawasi karena itu bagus untuk industri sawit kita sendiri,” tambah Bambang.

Menurut dia, kelapa sawit masih merupakan andalan, bukan hanya ekspornya tapi juga produk turunannya. “Kalau kita bicara hilirisasi, hilirisasi yang paling clear dan paling siap ya sawit, instrumennya ada, bea keluar, investasinya makin banyak, hulunya juga kuat jadi tinggal bagaimana biofuelnya saja malah banyangan saya kita bisa mengekspor biofuel,”pungkas Bambang.(ebtke/her)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here