SHARE

Balikpapan, GEO ENERGI – Bagi seorang Ramli Ahmad, Director of specialist project, PT Asia Pacific Mining Resources, mengadakan dan mengikuti konferensi batubara (2-3) September lalu di Balikpapan itu penting. Ia mengungkapkan, di saat situasi sedang terpuruk ini, yang pertama untuk networking dan kedua untuk mengupdate situasi pasar yang berlaku sekarang agar lebih paham dan mengetahui apa yang terjadi di pasar.

“Harga batubara memang sedang turun saat ini di pasaran dunia namun itu bukan salah Indonesia. Kita bisa lihat juga pergerakan batubara ini ada sinkronisasi dengan harga baja, kalau  harga baja itu turun makan harga batu bara akan turun juga. Dan komoditas di seluruh dunia jadi terpengaruh juga. Tidak bisa salahkan Indonesia, meskipun Indonesia pengeksport terbesar batubara dunia. Prediksi saya, situasi ini mungkin bisa berlangsung sampai akhir 2017 karena akan ada masa-masa terendah untuk mereka yang ada di dunia batubara,” Kata Ramli asal Singapura yang fasih berbahasa Indonesia

Seuang tiga tali dengan minyak. Ramli mengatakan, dengan harga minyak yang juga merosot membuat harga batubara juga jatuh, hanya ujung-ujungnya kita kan harus menghitung dan mengerti misalnya seperti pabrik-pabrik yang sudah pakai batubara tidak mungkin mengkonvesi ke minyak dalam waktu yang singkat. Jadi tetap mereka akan pakai batubara. Bedanya dengan turunnya harga minyak ini harga produksi batubara juga akan turun. “Karena minyak itu adalah komponen yang terbesar di produksi batubara, Jadi kalau  harga minyak turun harga batubara juga turun. Itu sudah menjadi hal yang lumrah dan  signifikan. “Ujar Ramli yang telah 10 tahun tinggal di Indonesia

Dipilihnya  Indonesia karena ia bisa melihat dan mengambil  kesempatan. Menurutnya,  Indonesia ini masih kaya dan banyak sumber daya alamnya,  penggunaan batu bara juga makin naik di area Asia, rugi jika tidak bisa melihat dan mengambil kesempatan ini.  Itulah yang menyebabkan ia memiliki kantor di Jakarta,Indonesia. Alasannya agar bisa lebih dekat dengan sumber daya alam yang dimiliki Indonesia  maupun orang-orang yang melakoni bisnis ini dan sampai saat ini mempunyai klien dari berbagai negara seperti;  Malaysia, Thailand, Vietnam Philipina, Mianmar, (China dan India) tapi  tidak banyak eksport.

Bagaimana dengan regulasi di Indonesia? “ Saya rasa dimana-mana sama ya. Pemerintah itu maunya juga bisa memperbaiki situasi kearah yang lebih baik. Tapi terkadang berbagi situasi itu yang agak susah dipredksi, kita tidak bisa memprediksi apa dan dengan bagaimana lalu hasilnya apa. Jadi actionnya kan nggak ada yang tahu untuk mencoba memperbaiki keadaan. Cuma yang saya sedihkan itu pemerintah berpikir bahwa bisnis  batubara adalah kerang uang. Misanya ada berbagai Tax batubara yang memberatkan,  padahal kondisi kita sudah terpuruk dan  parah. Meskipun pemerintah  tidak menaikkan royalty tapi pajak yang 1,5% tetap jalan,” ujar Ramli.

Menurutnya lagi untuk regulasi ini seharusnya pemerintah berkonsultasi dengan berbagai pihak, sehingga banyak menampung berbagai pendapat. Memang itu membingungkan tapi ujung-ujungnya akan lebih baik, karena kita akan mendapat masukan yang fair jadi bisa memberi keputusan yang wajar dan baik untuk semua. Ia juga menyayangkan sekelas konferensi internasional ini tidak ada yang datang dari jajaran pemerintah meski telah diundang.

Ia pun mengerti, bahwa pemerintah memang harus mendatangkan uang dan itu menjadi pendapatan bagi devisa negara. “Tapi bukan begini caranya “Dont kill dugs the golden egg,”  yang maksudnya adalah bebek yang masih bertelor jangan di bunuh, namun harus dibantu Biarkan bisnis ini bangkit lagi dari keterpurukan dan menjadi besar kembali, kalau sudah bangkit dan besar tentu akan lebih banyak lagi  telur emasnya,” tukasnya penuh harap.  (SUN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here