SHARE
biodiversitywarriors.org

Bali, GEO ENERGI –  Enam perusahaan dari negara-negara kawasan Segitiga Karang mendapat penghargaan karena melaksanakan bisnis pariwisata bahari berkelanjutan yang terintegrasi. Keenam pengusaha ini mendapat penghargaan karena dalam usaha yang digeluti, mereka secara aktif mendukung konservasi kawasan pesisir, biota laut dan habitatnya serta melibatkan peran serta masyarakat setempat.

Enam perusahaan yang berasal dari Indonesia, Malaysia, Papua Nugini, Filipina, Kepulauan Solomon, dan Timor-Leste tersebut menerima penghargaan pada Forum Bisnis Regional Prakarsa Segitiga Karang untuk Terumbu Karang, Perikanan, dan Ketahanan Pangan atau Coral Triangle Initiative on Coral Reefs, Fisheries and Food Security (CTI-CFF) ke-4 yang digelar di Nusa Dua, Bali, 27-29 Agustus 2015.

Forum tersebut dihadiri lebih dari 300 peserta yang berasal dari lebih 20 negara, termasuk pejabat tinggi pemerintahan seperti Menteri Pariwisata dan Budaya Malaysia, Mohamed Nazri Abdul Aziz, Menteri Pariwisata dan Budaya Kepulauan Solomon, Bartholomew Parapolo, Utusan Pemerintah Papua Nugini, serta Penasihat Kehormatan Menteri Pariwisata Indonesia, Indroyono Soesilo.

Pemimpin pemerintahan dalam konferensi tersebut juga menyatakan dukungan untuk memungkinkan perusahaan swasta mencapai praktik pariwisata bahari yang berkelanjutan. “Bisnis yang ada di laut dan wisata bahari di Segitiga Karang harus mendapat perhatian dan komitmen yang memadai dari semua pihak terkait, yaitu pemerintah, sektor swasta, akademisi dan masyarakat. Hal ini berupa dukungan pembangunan infrastruktur, peta jalan untuk wisata bahari yang berkelanjutan dan promosi serta akses pasar,” Demikian   yang disampaikan oleh M. Eko Rudianto, Direktur Kelautan, Pesisir dan Pulau-Pulau kecil dalam menyampaikan pidato oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia, Susi Pudjiastuti dalam konferensi ini.

Salah satu sambutan utama dalam konferensi tersebut disampaikan oleh Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Robert Blake. Duta Besar AS memuji upaya sektor swasta yang berdiri di garis terdepan dalam wisata bahari yang berkelanjutan di kawasan Segitiga Karang. “Saya menghargai para pelaku bisnis wisata bahari yang visioner dan para pengambil keputusan yang telah membuka jalan bagi wisata bahari yang berkelanjutan di wilayah ini. Semoga semakin banyak bisnis yang mengikuti jejak Anda,” katanya.

Dia menggarisbawahi pentingnya visi jangka panjang dalam mempromosikan praktik pariwisata bahari yang berkelanjutan. “Saya berharap bahwa dengan benih-benih yang kita sebar sekarang mengenai pengembangan Coral Triangle sebagai tujuan wisata bahari yang berkelanjutan akan tumbuh dan semoga  100 tahun lagi, generasi yang datang akan berdiri di penjuru pantai Segitiga Terumbu Karang dan mensyukuri indahnya warisan pesisir dan lingkungan laut yang kita tinggalkan.”

“Penghargaan ini bertujuan untuk mengedepankan sumbangsih penting sektor swasta dalam mewujudkan tujuan Prakarsa Segitiga Karang guna memastikan agar sumber daya laut di kawasan dapat dikelola secara berkelanjutan. Penghargaan kepada para perusahaan ini juga menekankan pentingnya Prakarsa Segitiga Karang sebagai wahana untuk mempromosikan tata kelola sumber daya yang berkeadilan, serta mendorong terwujudnya masyarakat setempat yang ligat dan berdaya lenting tinggi di pusat upaya pariwisata bahari yang berkelanjutan,” tutur Rili Djohani, Direktur Eksekutif Coral Triangle Center, saat pemberian penghargaan.

Para perusahaan tersebut adalah:

  • Reef Seen Divers’ Resort, Pemuteran, Bali, Indonesia: Reef Seen memiliki tiga kegiatan yang sangat melibatkan masyarakat dalam pariwisata bahari, seperti kegiatan Reef Gardener  dengan memberikan pelatihan dan menciptakan lahan pekerjaan bagi nelayan muda untuk secara aktif melindungi terumbu karang, kegiatan konservasi penyu dan kegiatan pelatihan sendra tari bagi anak usia sekolah.
  • Scuba Junkie, Mabul, Sabah, Malaysia: Scuba Junkie menjalankan kegiatan bersama anak sekolah untuk meningkatkan kesadaran dalam konservasi kelautan dan perlindungan mamalia laut, menjalankan pusat penetasan penyu bersama pemerintah setempat, melaksanakan bersih-bersih pantai setiap minggu, menggunakan energi terbarukan pada resort mereka, dan menyediakan fasilitas pengolahan limbah bagi masyarakat setempat.
  • Madang Resort Hotel, Madang, Papua Nugini: Perusahaan ini bersama masyarakat melaksanakan tata kelola sumber daya laut dan hutan secara berkelanjutan untuk mengembangkan pariwisata berbasis komunitas sebagai bagian dari agenda pembangunan berkelanjutan.
  • Evolution Diving, Malapascua, Cebu, Filipina: Perusahaan ini membantu mendirikan Dana Perlindungan Laut Malapascua yang digunakan untuk mendanai tiga kapal patroli dan 14 orang penjaga laut untuk mengawasi kawasan konservasi perairan laut setempat dan membantu pemasangan mooring buoys atau tempat tambatan perahu/kapal di tengah laut untuk menekan dampak kegiatan penyelaman. Perusahaan ini juga membantu pengumpulan dana untuk masyarakat setempat pasca bencana akibat Topan Haiyan tahun 2013.
  • Oravae Cottage, Gizo, Kepulauan Solomon: Perusahaan ini membantu mendirikan Kawasan Laut Yang Dikelola Wilayah Setempat (Locally Managed Marine Area) di sekitar kawasan mereka  dan menggunakan panel surya dan penampungan air dengan dampak minimal bagi lingkungan. Saat ini Oravae sedang mengupayakan sistem pengolahan limbah yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Mereka juga memiliki fasilitas pembibitan karang dan kerang serta bekerja bersama sekolah-sekolah setempat untuk memberikan penyadaran akan pentingnya konservasi laut.
  • Dive Timor Lorosae, Dili, Timor-Leste: Perusahaan ini adalah salah satu perusahaan  penyelaman pertama di Timor-Leste. Perusahan ini bekerja sama dengan lembaga setempat dalam menggelar bersih-bersih pantai secara rutin dan memberikan penyadaran tentang dampak sampah laut. Bersama lembaga setempat, perusahaan ini juga merayakan Hari Laut Sedunia dan Hari Segitiga Karang serta berpartisipasi dalam berbagai ekspedisi ilmiah bawah laut dan monitoring kawasan.

Enam usaha ini dipilih dari 12 kandidat yang dinominasikan oleh berbagai lembaga di kawasan SegitigaKarang. Mereka dinilai berdasarkan kemampuan untuk memenuhi kriteria sebagai berikut:

  • Secara aktif mendukung konservasi wilayah laut dan habitat.
  • Berkoordinasi dengan pemerintah lokal dan memberdayakan masyarakat setempat dalam perencanaan dan pengambilan keputusan tentang pariwisata bahari yang berkelanjutan di wilayah mereka.
  • Mendukung perusahaan lokal untuk mempromosikan dan mengembangkan produk yang berkelanjutan berdasarkan prinsip perdagangan yang adil. Produk-produk ini dapat mencakup makanan dan minuman, kerajinan, produk pertanian, dll.
  • Meningkatkan kualitas hidup masyarakat lokal dengan menyediakan peluang sosial, ekonomi, dan peluang lainnya
  • Memberikan pelatihan bagi staf dan masyarakat untuk meningkatkan kesadaran akan kualitas khusus dan kepekaan tentang warisan alam dan budaya setempat.
  • Memanfaatkan teknologi hemat energi dan sarana yang inovatif untuk mengurangi timbulan sampah, karenanya meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan hidup.

Melalui Froum Bisnis Regional ini, pengusaha dan pejabat pemerintah dari enam negara Segitiga Karang juga menyerukan diadopsinya pedoman pariwisata berkelanjutan dan standar untuk perkembangan serta investasi di daerah perlindungan laut Segitiga Karang. Dalam sesi diskusi meja bundar mengenai kebijakan, para peserta sepakat bahwa pedoman untuk pariwisata yang berkelanjutan di Segitiga Karang sebagian besar dapat disusun berdasarkan pedoman yang sudah ada di tingkat global dengan catatan, beberapa komponen perlu disesuaikan dengan kondisi lokal yang khusus dan direvisi agar menjadi relevan untuk semua potensi sektor pariwisata bahari serta dapat diakses secara mudah oleh semua pihak. Termasuk dalam pedoman yang akan dirujuk ini adalah produk organisasi internasional seperti Dewan Pariwisata Berkelanjutan Global (Global Sustainable Tourism Council).

Dengan mengadopsi berbagai standar ini, penanaman modal tidak hanya berkontribusi bagi pelestarian sumber daya laut, namun juga menciptakan nilai. “Penciptaan nilai, pengakuan, integrasi, pengelolaan dan realisasi adalah prasyarat bagi keberlanjutan (sustainability), seperti halnya bagi pembangunan (development),” tutur Francis Lee, pengusaha pemilik Raffles Marina yang juga salah satu pemateri forum.

Mereka juga mendesak pemerintah untuk bekerja dengan sektor swasta dan memberikan insentif  serta menghapus disinsentif, agar dapat mendorong penggunaan standar keberlanjutan dalam penanaman modal bidang pariwisata bahari berkelanjutan. “Sektor swasta perlu memahami bahwa tidak akan ada pariwisata tanpa penerapan prinsip-prinsip keberlanjutan, namun bila pemerintah kekurangan sumber daya, sektor swasta harus bekera bersama melindungi kawasan mereka,” tegas Ismail Ning, Ketua Gabungan Wisata Bahari Indonesia (GAHAWISRI)

Peserta forum ini juga mendukung rencana perumusan mekanisme pencitraan merek dan pemasaran pariwisata untuk wilayah tertentu di Segitiga Karang yang sesuai dengan standar pariwisata bahari berkelanjutan yang mencerminkan nilai-nilai Segitiga Karang serta menjamin kualitas pengalaman wisata pengunjung.

“Kami harap forum tiga hari ini akan menyediakan rekomendasi solid yang membuat para pemangku kepentingan bisa lebih berkomitmen dalam melaksanakan pariwisata bahari berkelanjutan di negara masing-masing” tutur Widi Pratikto, Ph.D., Direktur Eksekutif Sekretariat Regional CTI-CFF.

Tuan rumah dan penyelenggara kegiatan ini adalah Kementerian Koordinator Bidang Maritim dan Sumber Daya, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Pariwisata bersama Sekretariat Regional CTI-CFF, Komite Koordinasi Nasional CTI-CFF Indonesia, USAID, US Department of Interior, the National Oceanic and Atmospheric Administration, dan Coral Triangle Center dengan dukungan WWF, The Nature Conservancy, Conservation International, Tone, XL Axiata, dan Bank BNI 46. (WAW)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here