SHARE
Istimewa

Jakarta, GEO ENERGI – Ekonomi Indonesia yang rentan harus bersiap-siap bertahan dari global currency war, terutama devaluasi Cina yang diperkirakan masih akan dilakukan secara gradual. Terlebih lagi pada kenyataannya, ketergantungan Indonesia terhadap Cina di sektor industri.

“Dampak global currency war terhadap kondisi Indonesia ini akan berpengaruh sangat signifikan, karena perekonomian kita sangat rentan. Defisit terhadap Cina akan membengkak, karena banyak proyek infrastruktur di Tanah Air mengandalkan China. Tidak hanya raw material, capital goods, tetapi juga human resources,” ungkap Chief Economist IGIco Advisory, Martin Panggabean, di Jakarta (13/8).

Keputusan tiba-tiba The People’s Bank of China yang mendevaluasi 1,9% langsung menguncang pasar keuangan global, diperkirakan masih akan berlanjut. Cina secara terus-menerus akan melemahkan mata uangnya. “Sama seperti dulu secara gradually mereka menguatkan mata uangnya. Kondisi ini yang akan membuat pasar sulit stabil dan unpredictable,” jelas Martin.

Martin memperkirakan, dalam 6 bulan kedepan Cina tidak akan berhenti melakukan devaluasi sampai terjadi recovery ekonomi didalam negerinya. Kebijakan Cina tidak akan berhenti hanya di pasar finansial saja, goalnya adalah ekspor ke berbagai negara di dunia.

“Saat ini pasar akan bergerak, rupiah akan rentan, kita akan menjadi sasaran produk impor. Lalu bagaimana respon pemerintah untuk dapat benefit maksimum dari kondisi ini,” jelasnya.

Martin berharap Tim Ekonomi yang dipimpin Darmin Nasution dapat meyakinkan pasar, dalam melakukan pengendalian defisit government, serta pengendalian current account. Selain itu pemerintah bersama dengan OJK dan Bank Indonesia juga diharapkan menyiapkan strategi ketahanan industri perbankan terhadap serangan currency war.(GDH)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here