SHARE
Kantor Pusat PT Pertamina, Jakarta

Jakarta, GEO ENERGI – Penandatanganan kesepakatan bersama antara Pertamina dan BPPT dengan tajuk “Perencanaan dan Percepatan Pembangunan Infrastruktur Energi dan Pertambangan” kemarin sore, Senin (10/8), di harapkan dapat melahirkan inovasi-inovasi baru yang mendukung pengembangan usaha energi ke depan. Hal ini di sampaikan oleh Direktur Utama Pertamina, Dwi Soetjipto yang menghadiri penandatanganan tersebut di Auditorium Lantai 3 Gedung 2 BPPT.

Dwi menjelaskan, sebagai perusahaan energi yang terintegrasi dari hulu ke hilir dan bersaing secara kompetitif di lingkungan bisnis energi domestik yang semakin terbuka hingga ke level global, Pertamina dituntut untuk dapat terus berinovasi dan mencari teknologi baru untuk pengembangan usaha di masa depan. Untuk itu, kata Dwi, selain mengandalkan kemampuan sendiri, Pertamina sangat terbuka bekerjasama dengan mitra kerja yang berkompetensi tinggi, khususnya di bidang energi, utamanya migas dan energi baru dan terbarukan yang ke depan akan memiliki peranan penting bagi upaya mewujudkan kemandirian energi nasional.

“Kami tentu saja sangat bangga dapat bekerjasama dengan BPPT, yang telah menjadi ikon bagi pengembangan teknologi berbagai bidang di Indonesia. Melalui kerjasama ini diharapkan dapat dihasilkan inovasi-inovasi baru di bidang teknologi migas, energi baru terbarukan, berikut sistem pendukungnya. Secara khusus bagi Pertamina, kerjasama ini menjadi salah satu tonggak penting untuk terbentuknya center of excellence untuk kemajuan teknologi energi yang berbasiskan riset yang kuat di Indonesia,” Ujar Dwi di Jakarta, (10/8).

Ditemui setelah acara penandatanganan, Wianda Pusponegoro, VP Corporate Communication Pertamina memberikan keterangan kepada Geo Energi tentang langkah-langkah yang akan diambil selanjutnya pasca penandatanganan ini. Wianda mengatakan bahwa Pertamina dan BPPT seharusnya sudah mulai bekerja dengan efektif dalam waktu sesingkat-singkatnya setelah nota kesepahaman ini

“Ini kan baru nota kesepahaman saja. nanti kita lihat kebutuhannya seperti apa. Tapi yang menjadi objektif kita, setelah ditandatangani ya seharusnya sudah mulai berlaku efektif untuk kita misalnya agar mulai menjajaki proyek-proyek yang sekarang sedang dikerjakan Pertamina,” papar Wianda.

Proyek-proyek yang sedang di garap Pertamina lanjut Wianda merupakan proyek-proyek yang berfokus atau sifatnya berupa pengembangan energi terbarukan. Beberapa diantaranya seperti tenaga surya, biomassa, dan limbah ternak.

“Salah satu hasil kerjasama ini untuk rancang bangun ya, jadi segala kebutuhan proyek dilakukan rancang bangun. Misalnya basic engineering design atau front end engineering design. Tapi fokus kita sebenarnya lebih ke proyek-proyek kita yang energi baru terbarukan. Jadi apakah itu sumber energinya berasal dari Biomassa, solar cell atau kemudian energi terbarukan lainnya seperti surya dan Gas yang existing sudah ada. Walaupun kita juga sudah ada rencana proyek untuk limbah sapi di Sumatera salah satunya di wilayah ekonomi khusus di Sumatera Utara. Kita lagi terus jajaki ya terus berproses. Semoga hasil review yang sudah kita lakukan selama ini bisa dibantu proses rancang bangunnya dari tim BPPT,” Ungkap Wianda.

Kerjasama ini memungkinkan setiap pihak yang terlibat nota kesepahaman (Pertamina, BPPT, Kementerian ESDM) untuk melakukan pemanfaatan sumberdaya yang dimiliki oleh masing-masing pihak berupa bantuan teknis, pendidikan dan pelatihan, hingga pemanfaatan dan penerapan hasil-hasil yang sudah ada. (FAT)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here