SHARE
Foto: Fela/ST

Jakarta, GEO ENERGI – Rencana pengalihan penggunaan bahan bakar minyak (BBM) ke bahan bakar gas (BBG) dengan konversi BBG yang digadang-gadangkan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sejak beberapa waktu lalu sampai saat ini nyatanya belum menunjukan tanda-tanda akan segera terealisasi. Bahkan, Transjakarta yang selama ini sudah menggunakan BBG pun dikatakan sebelumnya akan kembali menggunakan diesel untuk bahan bakar utamanya.

Ahmad Safrudin, salah satu anggota Komite Penghapusan Bensin Bertimbel (KPBB) mengatakan bahwa patut diduga terhambatnya perealisasian konversi BBM ke BBG ini karena adanya sabotase yang dilakukan oleh pejabat yang memegang amanat untuk menjalankan mandat peraturan perundangan tentng pemanfaatan BBG untuk sektor transportasi.

“Kita lihat ada pihak yang mempengaruhi Menteri ESDM, Menteri Perhubungan, Menteri Perindustrian, Dirut Pertamina bahkan Gubernur sehingga tidak mengambil langkah konkrit melaksanakan regulasi yang ada. Itulah yang kita bilang tujuannya untuk menggagalkan program konversi dan mungkin mereka masih senang menggunakan minyak. Padahal Pertamina memproduksi gas tapi dibalik Pertamina ada kepentingan industri otomotif. Dan kenyataannya industri itu tidak begitu happy dengan adanya BBG,” ujar Ahmad disela-sela acara Konferensi Pers Asosiasi Perusahaan Compressed Natural Gas Indonesia (APCNGI) di Jakarta Selatan, Selasa (4/8).

Belum lagi, tambah Ahmad, total ada sebanyak 16 Peraturan Perundangan tentang BBG untuk transportasi yang masih berlaku.

“Dan regulasi semua belum dicabut mulai dari soal migas sampai diversifikasi energi. Semua ada 16 regulasi bahkan di level DKI ada Peraturan Gubernur selain Perda tentang penggunaan BBG untuk angkutan dan taksi. Agar setiap SPBU memprioritaskan dispenser BBG. Ini semua belum dicabut kalau sudah dicabut tidak masalah. Artinya ada sabotase kan?” tandasnya. (YAS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here