SHARE
Foto: Fela/ST

Jakarta, GEO ENERGI – Kendaraan berbahan bakar gas sampai dengan saat ini masih ada alam jumlah yang minim. Bahkan, alat transportasi umum seperti Transjakarta yang selama ini telah menggunakan BBG sebagai bahan bakar utamanya, disebut-sebut akan kembali menggunakan diesel karena bahan bakar gas dianggap sebagai penyebab utama seringnya kebakaran yang terjadi pada alat transportasi transjakarta tersebut.

Asosiasi Perusahaan Compressed Natural Gas Indonesia (APCNGI), salah satu organisasi para pengusaha pemasok CNG Indonesia mengatakan bahwa kesimpulan yang diambil terkait dengan insiden terbakarnya bus transjakarta tersebut tidak didasari dengan alasan yang kuat. Pasalnya, keputusan menggunakan kendaraan BBG ini diambil sejak awal dengan mempertimbangkan bahwa BBG merupakan pilihan alternatif energi yang aman, efisien, dan sangat ramah lingkungan.

Robbi Sukardi, Ketua Umum APCNGI dalam acara konferensi pers APCNGI di bilangan Jakarta Selatan, Selasa (4/8) mengatakan bahwa teknologi BBG untuk kendaraan besar maupun kecil telah banyak berkembang di negara lain tanpa terjadinya insiden kecelakaan sebanyak yang terjadi di Indonesia. “Bahkan di Indonesia sendiri telah ada kendaraan lain selain transjakarta yang menggunakan BBG seperti kendaraan roda tiga yang dikenal sebagai Bajaj Biru yang jumlahnya telah mencapai lebih dari 6.000 , bus antar kota Arimbi dengan jumlah lebih dari 30 unit bus, ribuan armada taksi di Indonesia, dan armada logistik truk, yang hampir tidak pernah terjadi insiden terbakar atau hampir terbakar sebagaimana yang terjadi pada bus Transjakarta.”

Robbi juga menambahkan, gas alam memiliki hasil pembakaran yang lebih bersih dibandingkan dengan menggunakan bensin karena rantai karbon BBG lebih pendek dibandingkan yang dihasilkan BBM, angka oktan yang lebih tinggi yaitu sekitar 120-130, dan emisi karbon dioksida yang lebih rendah jika dibandingkan dengan BBM. (YAS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here