SHARE
Foto:Hermana

Sumedang, GEO ENERGI – Tidak adanya tanggapan serta langkah serius dari pemerintah terhadap salah satu situs cagar budaya yang terkena dampak penggenangan air Waduk Jatigede, sontak mengundang teguran keras dari seluruh budayawan Sunda. “Itu sudah kami sampaikan dalam rapat-rapat. Dan tanggapan dari pemerintah, blank. Tidak ada jawaban sama sekali. Pemerintah bingung. Mau bagaimanapun, kami terus berusaha. Karena sudah ada komitmen dari seluruh tatar Sunda, komunitas budaya sudah sepakat akan mempertahankan situs ini,” ucap Wd. Dharmawan Ider Alam Wangsa Nagara, selaku Budayawan Sumedang, Jawa Barat kepada Geo Energi saat berada di Situs Prabu Aji Putih di Cipaku, Sumedang, Sabtu (1/8).

Lebih lanjut beliau tegaskan, kekeliruan pemerintah terletak pada hak-hak rakyat dan cagar budaya yang tidak dicantumkan. “Kalau Perpres itu kan, harus menyeluruh penyelesaiannya. Terkait situs, kami sudah ada payung hukum Undang-Undangnya Nomor 11 Tahun 2010, berganti UU Nomor 5 Tahun 1999. Itu jelas sekali, cagar budaya harus dilindungi. Yang membuat peraturan kan pemerintah, kenapa pemerintah harus melanggar UU tersebut?” pungkasnya.

Mau bagaimanapun juga, bagi Wd. Dharmawan Ider Alam Wangsa Nagara beserta para budayawan yang berada di sana, seperti; Ucup Sastra Jendra Rahayu Ningrat dari Sangker Subang, Adong dari Forum Bayang Kara Indonesia, Padepokan Tri Tangtu Karawang Sunandang, Engking dari Cirebon, Hj. Sintawati Pupuhu Padepokan Dangiang Pusaka Pajajaran, Leny dari Bagala Asih Panjipuhan, Bah Oko dari Kabuyutan Sunan Corenda, Edy Kabuyutan Pager Rucukan dan Rudy dari Keuyeup Bodas, Situs Prabu Aji Putih merupakan cikal bakalnya raja-raja Sumedanglarang, pewaris peradaban, pewaris fasilitas hidup terhadap anak-cucu yang sampai sekarang masih dapat digunakan dan juga dilestarikan.

“Oleh sebab itu, akan kami pertahankan sebagai harga mati. Kalau nanti sampai dipindahkan, kami akan berupaya untuk melawan terus dengan kekuatan-kekuatan rakyat,” tambahnya.

“Jangan sampai adanya proyek Jatigede ini, memiskinkan. Kami setuju proyek Jatigede, apabila menciptakan kesejahteraan. Kalau nyatanya sekarang kan, bukan menciptakan kesejahteraan melainkan kemiskinan. Berarti ini proyek Dajal. Kalau menciptakan kesejahteraan, proyek Illahiyah. Kalau memiskinkan masyarakat banyak, sistem proyek Dajal yang dipakai,” tutupnya. (NAA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here