SHARE
Foto: Ardi/Geo Energi

Jakarta, GEO ENERGI – Terkait permasalahan penggenangan waduk Jatigede yang menyelimuti desa Cipaku, Sumedang, salah seorang warga yang merupakan ketua dari kelompok tani mengatakan bahwa produksi padi di daerah tersebut sangat melimpah ruah. Hal itu mestinya diketahui oleh pemerintah mengingat akan ditenggelamkannya daerah sekitar akibat proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air, Jatigede, Sumedang.

“Bisa dikatakan sebagai lumbung padi bagi Sumedang. Di desa saya, sekali panen bisa mencapai 50 ton beras. Dan itu untuk yang keluar. Bukan untuk dikonsumsi warga Jatigede,” jelas Mbun Sobandi selaku Kelompok Tani dan Ternak Desa saat Geo Energi temui di Kantor Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Kamis (30/7).

Beliau pun mengkritisi kebijakan pemerintah terhadap langkah yang akan dilakukan di tanah kelahirannya berupa mengubahalihkan fungsi lahan pertanian. “Banyak tanah pertanian yang sudah alih fungsi menjadi kawasan pabrik, lapangan udara dan lainnya. Kalau di tempat saya, awalnya persawahan yang luas dan sekarang menjadi bendungan. Dan di dalam kecamatan, ada yang mempunyai potensi tinggi,” jelasnya.

Selain itu, sebagai Ketua Kelompok Tani Jatigede, Mbun Sobandi juga sering melakukan pengerjaan pertanian, dan secara tegas menyatakan keberatannya atas penggenangan yang akan dilakukan pemerintah pada tanggal 1 Agustus nanti.

“Tanah kami ini yang begitu luas, bisa menghasilkan 8 kwintal per sekali panen. Yang sudah berpotensi tinggi, jangan dihilangkan. Saya tidak percaya kalau pemerintah akan menyelesaikan konflik di masyarakat. Karena pemerintah hanya memojokkan rakyat. Menyempitkan ruang gerak rakyat yang ada di Jatigede,” tambahnya.

Mbun Sobandi juga mengatakan keganjilan terhadap keamanan yang pemerintah lakukan. Ada beberapa hal yang aneh di dalam aturan tersebut. “Yang saya khawatirkan adalah pengamanan. Siapa juga yang akan diamankan? Kami semua (warga Jatigede) aman-aman saja,” tutupnya. (NAA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here