SHARE
Istimewa

Jakarta, GEO ENERGI – Baru juga usai tentang Kakatua Jambul Kuning, saat ini Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mesti kerja ekstra guna membuktikan kembali taringnya akan pelestarian lingkungan hidup dan perlindungan satwa. Hal tersebut didapatkan terkait laporan dari seorang peselancar asal Australia, Craig Brokensha atas kondisi empat ekor lumba-lumba yang disimpan dalam kolam sempit dengan kandungan air klorin di Keramas, Bali. Craig Brokensha, melayangkan protesnya itu melalui petisi yang dibuat dengan judul “Free four wild dolphins in a tiny resort pool”. Dari petisi yang dibuatnya sejak beberapa pekan silam, tak pelak jika ternyata mendapatkan perhatian dari masyarakat internasional.

“Sebelumnya, terimakasih atas kepedulian dan suaranya. Dukungan dan laporan masyarakat, tentunya akan membantu kami dalam upaya konservasi lingkungan hidup dan perlindungan satwa,” jelas Siti Nurbaya, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan kepada Geo Energi, Senin (27/7).

Siti Nurbaya juga akan memastikan tindakan tegas bagi para pelaku, sehingga nanti timbul efek jera. “Kami menanggapi laporan ini dengan serius. Saat ini sedang menginvestigasi situasinya. Kalau memang ternyata ada pelanggaran hukum oleh resor ini, baik berupa kekerasan maupun penelantaran lumba-lumba, ataupun standar-standar kondisi yang tidak terpenuhi. Maka kami akan mengambil tindakan,” ungkapnya.

Siti Nurbaya juga mengatakan bahwa hal ini telah mengangkat kembali wacana tentang tempat-tempat atraksi lumba-lumba, sehingga perlu sebuah diskusi terbuka yang melibatkan multipihak. “Dalam beberapa pekan ini, kami akan mengadakan diskusi publik dengan topik perlindungan lumba-lumba. Dan kami akan mengundang para ahli dalam pendidikan, psikologi, konservasi, perlindungan satwa, organisasi masyarakat sipil, untuk berdialog terbuka dan mencari solusi bersama,” tutupnya. (NAA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here