SHARE
Kantor Pusat PT Pertamina, Jakarta

Jakarta, GEO ENERGI – PT Pertamina (Persero) butuh regulasi yang kondusif agar bisa tumbuh dan membesarkan diri secara optimal. Hal itu diungkapkan oleh Ketua Koordinator Industri Gas Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Achmad Widjaya.

“Regulasi yang ada saat ini sangat membatasi ruang gerak Pertamina untuk tumbuh. Konsep liberalisasi yang ada dalam UU No. 22/2001 tentang Migas mengganjal Pertamina untuk tumbuh dan berkembang,” kata Achmad melalui pesan tertulis kepada Geo Energi di Jakarta, Rabu (8/7).

Ia menjelaska, UU tersebut perlu direvisi menjadi regulasi yang kondusif bagi pertumbuhan dunia usaha dan industri migas, termasuk bagi Pertamina. “Amendemen UU No.22/2001 tentang Migas yang sudah dimulai sejak beberapa tahun lalu namun tak kunjung selesai hingga kini.”

Kondisi demikian, menurut dia menjadikan usaha sektor ini di Indonesia menjadi kurang kondusif. Ia menilai DPR terlalu banyak kompromi, sehingga revisi atau amendemen UU No.22/2001 tidak segera selesai. Akibatnya, Pertamina menanggung beban yang tidak kecil, yakni tidak bisa menjadi besar.

“Sebuah Negara bisa menjadi besar, dengan memiliki dua aspek ketahanan. Ketahanan energi dan ketahanan pangan. Kalau amandemen regulasinya tidak cepat diselesaikan, maka iklim usaha migas menjadi tidak kondusif dan sekaligus memperlemah BUMN migas yang ada di Indonesia, yaitu Pertamina,” tegasnya.(ABA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here