SHARE
ILUSTRASI

Jakarta, GEO ENERGI – Beberapa pekan terakhir, sejumlah perusahaan tambang batu bara mengumumkan rencana masuk ke sektor energi menyusul anjloknya harga-harga komoditas di dunia. Penyediaan tenaga listrik swasembada dan pemanfaatan energi terbarukan, dinilai bisa menjadi solusi di tengah masalah ketersediaan jaringan listrik.

“Energi terbarukan dapat melengkapi pembangkit listrik bertenaga disel bagi pertambangan di Indonesia, yang menggunakan bahan bakar non-subsidi dan menjadi sumber biaya yang besar. Beban biayanya sangat terasa di daerah terpencil yang tidak tersedia jaringan listrik,” kata Jim Schnieders, Country Manager dan Vice President untuk Black & Veatch di Indonesia, Rabu (8/7).

Dalam pesan tertulis kepada Geo Energi, Schnieders menjelaskan bahwa untuk skala global, pemanfaatan energi terbarukan sebagai solusi pelengkap kian diminati oleh perusahaan pertambangan. Sumber energi terbarukan seperti pembangkit listrik tenaga air, angin, serta tenaga surya, telah menjadi bagian penting dalam penyediaan sumber daya listrik di berbagai daerah pertambangan utama di seluruh dunia, seperti di AS, Kanada, Australia dan Chile.

Padamnya listrik, menurut dia bisa berdampak fatal terhadap produktivitas sebuah tambang yang beroperasi 24 jam sepekan penuh. “Pengiriman bahan bakar solar ke area terpencil di Kalimantan Tengah dan Timur, misalnya, juga ke pulau-pulau di Indonesia bagian timur, membutuhkan biaya sangat mahal dan penuh tantangan akibat infrastruktur yang tidak memadai, serta seringkali terkendala cuaca buruk seperti hujan lebat dan gelombang tinggi,” papar Schnieders.

Agustus 2014 lalu, Kepala Asosiasi Pengusaha Mineral Indonesia, Poltak Sitanggang menegaskan pentingnya persediaan listrik untuk kegiatan operasional pertambangan. Ia menyarankan pentingya penghematan dari pengurangan subsidi bahan bakar yang sedang dilaksanakan bisa dialihkan ke infrastruktur, termasuk pembangkit listrik.

Selain itu, naiknya tarif dasar listrik telah mendorong perusahaan pertambangan untuk mampu memenuhi kebutuhan listrik mereka sendiri. Karena itu, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan, perusahaan pertambangan diminta untuk mengembangkan pembangkit listrik tenaga panas bumi atau energi terbarukan mereka sendiri.(ABA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here