SHARE
Pakar hukum lingkungan dan pengajar Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Bono Budi Priambodo.

Depok, GEO ENERGI – Diversifikasi energi alternatif menghadapi tantangannya masing-masing, di samping mengalami pasang surut. Persoalan tersebut mengemuka dalam diskusi bertajuk ‘Biofuel: Dilema Antara Kebutuhan Energi Dunia dan Kelestarian Lingkungan Hidup’ di Pusat Studi Jepang, Universitas Indonesia, Rabu (17/6).

“Sekalipun ide mengenai energi terbarukan yang berbasis pada Bahan Bakar Nabati (BBN) dikenalkan, kesadaran akan lingkungan seharusnya juga diperhatikan,” kata pakar hukum lingkungan dan pengajar Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Bono Budi Priambodo.

Dikatakan Bono, kini laju pemenuhan kebutuhan energi global terlalu memaksakan diri pada orientasi ekonomi. Tak hanya itu, gerak ini juga melupakan prinsip keberlanjutan dan kelestarian alam. Guna menjembatani pembangunan dengan prinsip keberlanjutan, menurut dia negara merupakan satu-satunya instrumen yang harus digunakan. “Dalam hal energi alternatif, termasuk bahan bakar nabati, cuma negara dan negara harus berpihak.”

Kendati demikian, ia mengaskan bahwa BBN bukanlah solusi terbaik bagi masalah kebutuhan energi nasional. “Tidak ada penambahan lahan untuk produksi BBN ini memang benar. Sejalan dengan itu, lahan itu tadinya hutan, sementara hutan fungsi utamanya adala carbonizing, untuk membersihkan atmosfir. Bayangkan jika hutan-hutan kita yang tersisa seperti yang ada di Papua habis . Di mana lagi hutan di bumi ini yang masih tersisa,” paparnya.

Sebagai penyelenggara, salah satu agenda Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Universitas Indonesia turut berupaya menyikapi krisis energi fosil sebagai salah satu permasalahan fundamental bangsa, di samping permasalahan pangan dan air.(FAT)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here