SHARE
Anggota Komisi VII DPR, Kurtubi (FOTO: REZA)

Jakarta, GEO ENERGI – Anggota Komisi VII DPR, Kurtubi menilai merosotnya produksi minyak di Indonesia disebabkan oleh sistem tata kelola minyak dan gas (migas) yang masih berbelit-belit.

Penyebab utamanya, menurut dia kiblat tata kelola migas yang masih mengacu pada UU Nomor 22 Tahun 2001.”Proses investasi migas tata kelola sekarang sangat ribet dan berbelit,” jelas Kurtubi, dalam diskusi ‘Mendambakan Undang-Undang Migas yang Konstitusional’, di Jakarta, Jumat (5/6).

Akibatnya, menurut dia banyak investor tidak berani berinvestasi di Indonesia. Ini berdampak pada kegiatan eksplorasi dan produksi. “Dengan sistem UU Migas ini ribet eksplorasi, anjlok investasi tidak ada yang masuk, produksi anjlok,” papar dia.

Karena itu, politisi yang juga pakar energi ini meminta pemerintah terus mencari investor asing dengan memperpaiki UU Tata Kelola Migas, untuk memenuhi kebutuhan pasokan minyak dan mengurangi risiko bila mengeluarkan anggaran sendiri untuk eksplorasi.

“Kita tetap butuh investasi karena berbagi risiko, kalau pergunakan uang negara mencari minyak penuh risiko,” pungkasnya.(REZ)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here