SHARE
ILUSTRASI

Jakarta, GEO ENERGI – PT Pertamina (Persero) dirugikan dalam impor minyak mentah dari Sonangol, Angola. Pengamat energi Yusri Usman mengatakan, gelagat tersebut sudah tampak saat perjanjian awal, termasuk sistem bisnis, diskon harga dan penempatan kilang.

“Harusnya kalau dianggap tidak ekonomis, mestinya ditolak. Itu masuk standar program dengan desain kilang. Kalau ada tekanan politik, diperiksa kejadian begini, kemudian itu menjadi tanggung jawab semua (Pertamina),” kata Yusri kepada Geo Energi, Kamis (4/6).

Kerugian kali ini, menurut dia merupakan bentuk kecolongan pihak pemerintah, dan sudah seharusnya dipertanggungjawabkan oleh Direksi Pertamina periode lalu. Dikatakan Yusri, hal ini berawal dari ketidakjelasan Direksi Pertamina kala itu, Muhammad Husein yang mendadak mengoperalihkan kontrak.

“Tiba-tiba oleh Direksi Pertamina (Muhammad Husein) dialihkan menjadi kontrak dengan Pertamina Energy Services (PES) di Singapura. Beredarlah dokumen pada saat itu, 18 November 2014. Ternyata hal tersebut ditanya oleh PES, dong. Sesuai dengan apa yang diisukan terkait diskon, Sonangol EP menjawab, bahwa tidak ada diskon. Yang ada hanya harga pasaran,” paparnya.

Ia juga mempertanyakan kinerja dari Tim Reformasi Tata Kelola Migas yang pada saat itu sudah terbentuk atas gagasan Menteri ESDM, Sudirman Said. “Mereka yang kasih rekomendasi. Ada 3 loh kejadian di sini yang merugikan negara,” tambahnya. Yusri berharap agar masalah ini terbuka, sehingga KPK dapat menangkap siapa saja aktor yang menyebabkan kerugian pada negara.

Geo Energi mencoba mengkonfirmasi kepada Direktur Pertamina, Rachmad Hardadi ihwal pembelian minyak dari Sonangol. Hingga berita ini ditayangkan, yang bersangkutan tidak berkenan memberikan jawaban. Kami juga menghubungi mantan Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas, Faisal Basr, tapi belum berkenan memberikan jawaban.(NAA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here