SHARE
Foto : Geo Energi/Affan

Jakarta, GEO ENERGI – Perkembangan produksi energi baru dan terbarukan di Indonesia hingga kini masih terus terhambat. Sumber-sumber energi terbarukan seperti biogas, nuklir, biodiesel, pembangkit listrik tenaga minihidro masih digunakan dalam skala yang jauh di bawah negara-negara berkembang atau negara maju lain.

Hal itu diungkapkan oleh Arif Yudiarto, Perekayasa Madya Bioenergi Pusat Teknologi Pengembangan Sumber Daya Energi BPPT. Energi biogas skala rumah tangga, menurut dia hingga kini baru mencapai 15 ribu unit di Indonesia. “Kendati pembangkit listrik minihidro dan biogas mencapai skala megawatt, tapi jumlahnya tidak banyak,” kata Arif, Rabu (3/6), dalam Forum Inovasi Teknologi (FIT) 2015 yang digelar pada 3-4 Juni 2015.

Demikian halnya dengan energi nuklir. Meski secara teknologi sudah siap, kini energi nuklir masih menghadapi tentangan hebat dari elemen-elemen tertentu dalam masyarakat. Karena itu, sejauh ini hanya biodiesel yang didukung oleh produksi minyak sawit yang melimpah. “Tetapi juga kalah spektakuler dibanding bioethanol Brazil dan Amerika Serikat yang mencapai 30-an juta kiloliter per-tahun.”

Sejak krisis energi global 1970-an, dikatakan Arif, Indonesia mulai mengembangkan berbagai jenis energi terbarukan (BBN, energi surya, angin, hidro). “Untuk biogas bandingkan dengan China dan India, yang mencapai beberapa juta. Di China, dengan subsidi 50 persen dan pemerintah, tiap tahun terbangun 500 ribu unit. Pembangkit mikrohidro di bawah 1 MW juga gak menonjol amat,” papar Arif.

Pantauan Geo Energi, acara tersebut dihadiri para pemangku kepentingan dari pemerintah, akademisi, inkubator bisnis, technopreneur, investor, termasuk kalangan bisnis. Mereka diharapkan saling bersinergi dalam mengambil langkah nyata untuk memperkuat ekosistem kewirausahaan berbasis IPTEK.

FIT merupakan acara tahunan yang diselenggarakan oleh Yayasan Inovasi Teknologi Indonesia (INOTEK), sebuah inkubator bisnis untuk teknologi tepat guna yang didirikan pada 2008. Dalam acara ini, INOTEK bekerja sama dengan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Institut Pertanian Bogor dan Masyarakat Ilmuwan & Teknolog Indonesia (MITI) Klaster Mahasiswa.

Acara yang didukung The Lemelson Foundation ini digelar agar lebih mendorong semangat para technopreneur Indonesia. Mereka diharapkan terus berinovasi menciptakan produk-produk teknologi teknologi tepat guna yang bernilai komersial, ramah lingkungan dan bermanfaat bagi masyarakat luas. (FAT)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here