SHARE
Diskusi Bulanan INDEF, Selasa (26/5).

Jakarta, GEO ENERGI – Institute Development of Economics and Finance (Indef) menunjukkan, kebutuhan energi untuk sektor industri yang mencapai 42 persen, dari total konsumsi energi nasional, diprediksi bakal sulit terpenuhi. Kini yang terjadi adalah defisit energi pada industri, karena buruknya tata kelola minyak dan gas Indonesia.

“Produksi energi primer di Indonesia sebenarnya cukup untuk memenuhi kebutuhan di sektor industri, tapi terkendala infrastruktur. Sehingga malah terpaksa diekspor ke luar negeri,” kata peneliti Indef, Ahmad Heri Firdaus di Kantor Indef, Jakarta, Selasa (26/5).

Setelah pemerintah menjual energi primernya ke luar negeri, malah mengimpor kembali energi siap pakai untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri, khususnya industri. Faktanya, defisit energi yang dialami saat ini terjadi akibat penggunaan produksi energi Indonesia selama ini hanya untuk kepentingan ekspor.

Ia mencontohkan, dalam produksi batu bara, sektor industri hanya memperoleh 7 persen dari batu bara yang dihasilkan di dalam negeri. Sedangkan,sebesar 79 persen batu bara diekspor dan 14 persen untuk pembangkit listrik. Besarnya ekspor ini membuat neraca setiap jenis energi mengalami defisit, sehingga pemerintah terpaksa mengimpor energi dari luar.

“Kami buat simulasi, menurut hasilnya, setidaknya ekspor berbagai jenis energi harus dikurangi sebesar 19,2 persen untuk menghindari defisit,” papar Ahmad. Jika Indonesia terus-terusan defisit energi dan tidak mampu mengubah tata kelolanya, maka industri dalam negeri terancam tidak akan berkembang dan jalan di tempat.(GDH)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here