SHARE
ILUSTRASI

Jakarta, GEO ENERGI – Kajian yang dilakukan Institute Development of Economics and Finance (Indef) menyimpulkan, tata kelola energi Indonesia malah menjadi halangan bagi Indonesia untuk memenuhi kebutuhan energinya, terutama di sektor industri.

“Salah satu korban buruknya tata kelola migas adalah sektor industri,” kata peneliti Indef, Ahmad Heri Firdaus di Kantor Indef, Jakarta, pada Selasa (26/5). Dikatakan Ahmad, Indonesia sebenarnya sudah mampu memenuhi kebutuhan energi dalam negerinya, dengan energi primer hasil produksinya sendiri.

Kendati demikian, faktanya ada beberapa kendala sehingga sampai kini kedaulatan energi Indonesia belum tercapai. Salah satu kendala pemenuhan kebutuhan energi adalah keterbatasan infrastruktur yang digunakan untuk mendistribusikan energi hasil produksi ke pusat-pusat kegiatan indutri.

Kurangnya infrastruktur, menurut dia menyebabkan peran energi berubah menjadi komoditas untuk diekspor. Tak bia dihindari, kondisi demikian menjadikan Indonesia berada di urutan pertama negara pengekspor.

Selain itu, ada kendala defisit energi sektor industri, yakni adanya isu lingkungan yang menghalangi pemanfaatan energi. Ia mencontohkan, pemanfaatan batu bara yang terbatasi akibat keluarnya Undang-Undang Lingkungan Hidup.

Kendala lainnya adalah kurangnya investasi untuk pengolahan energi baru terbarukan, termasuk ketidaksesuaian antara persebaran sumber energi dengan lokasi industri.

Untuk mengoptimalisasi pemenuhan kebutuhan energi, menurut dia pemerintah harus dapat membuat infrastruktur untuk distribusi, meningkatkan elektrifikasi di luar Jawa untuk mempermudah distribusi. Serta mempercepat usaha diversifikasi energi,mengurangi ekspor dan meningkatkan efisiensi penggunaan energi dengan teknologi yang efisien.(GDH)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here