SHARE
Mantan Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas, Faisal Basri

Jakarta, GEO ENEGI – Mantan Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas, Faisal Basri mengaku memiliki bukti perjanjian antara Hatta Rajasa dengan Rusal, perusaahan tambang asal Rusia. Faisal sempat menuding Hatta Rajasa, saat menjabat Menteri Koordinator Perekonomian, sebagai biang keladi hancurnya tata kelola bauksit di Tanah Air.

“Saya punya foto saat pertemuan antara Hatta Rajasa, yang dulu masih sebagai Menko, Ketua Umum Kadin Suryo Sulisto, Perdana Menteri Rusia dan pihak Rusal,” kata Faisal di Kantor Indef, Jakarta, Selasa (26/5). Ia juga mengaku memiliki data-data dan beberapa saksi untuk membuktikan tudingannya.

Hatta Rajasa mengakui pertemuan tersebut untuk penandatanganan MoU pembangunan smelter oleh Rusal di Indonesia. Hal ini dilakukan karena ada pelarangan ekspor bauksit, sebagai amanat UU No.4 Tahun 2009 tentang Mineral dan Batubara.

“Tidak ada kata melarang di UU No 4 Tahun 2009. Semangat UU tersebut adalah memaksa lokakarya untuk melakukan pemurnian yang dibuat, karena Freeport dan Newmont tidak membangun apa-apa di Indonesia, padahal sudah lama beroperasi. Tapi yang kena sekarang malah IUP,” jelas Faisal.

Faisal menjelaskan, pertemuan antara Hatta dan Rusal merupakan negoisasi Indonesia dan Rusia, agar Indonesia menghentikan ekspor bauksit. Sebagai gantinya, Rusal akan menanamkan investasi di Indonesia.

“Tidak ada itu bangun smelter. Tahun 2007 dia (Rusal) sudah tanda tangan kontrak dengan Antam untuk bangun smelter, tapi tidak terlaksana. Ngapain bikin MoU lagi?” ujar Faisal. Apalagi, dari masing-masing pihak tidak memiliki konsesi bauksit yang dibutuhkan untuk smelter.

“2013 kita ekspor bauksit 50 juta ton. Tapi di 2014, 50 juta ton itu hilang karena dilarang. Padahal, dengan berhentinya ekspor tersebut yang mendapat keuntungan malah trader. Pasti ada negosiasi,” ujar Faisal. “Masa kita rela hancurkan diri sendiri agar pihak asing yang untung.” (GDH)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here