SHARE
Ketua Komisi VII DPR, Kardaya Warnika

Jakarta, GEO ENERGI – Pemerintah dianggap lalai mengatur tata kelola batu bara, sehingga menyebabkan banyak masalah tentang batu bara belum terselesaikan.

“Indonesia masih merasa kaya akan migas dan minerba, padahal untuk migas kita hanya punya 0.2 persen dari cadangan dunia. Yang paling besar malah batubara, sekitar 0,5 persen lebih dari cadangan global,” kata Ketua Komisi VII DPR RI, Kardaya Warnika di Jakarta, Ahad (24/5).

Akibatnya, tata kelola batu bara tidak diawasi ketat. Masih ada permasalahan seperti ekspor yang tidak terkendali hingga menguras cadangan energi batu bara. Masih banyak Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang statusnya belum clean and clear (CnC).

Sehingga, masih banyak perusahaan yang belum membayar pajak dan kewajiban lainnya. Belum lagi kurangnya Good Mining Practise (GMP), serta isu lingkungan yang terkenaa dampak pertambangan dan lainnya.

Dikatakan Kardaya, batu bara dapat diartikan sebagai energi, Sumber Daya Alam (SDA) dan komoditas. Karena itu, dalam menyelesaikan permasalahan tentang batubara, dapat dilihat dari ketiga sisi tersebut.

Sebagai energi, pemerintah masih belum memberi treatment yang tepat untuk cadangan batu bara. “Seperti membawa pasien dengan penyakit berat ke poliklinik umum, bukan ICU. Jadinya, seadanya dan tidak tepat. Karena, energi ini dipakai dan diolah oleh manusia, jadi manusianya dulu yang diubah. Mampu atau tidak mengolah yang sudah ada,” paparnya.

Dalam pengelolaan batu bara sebagai SDA, menurut dia kita harus kembalikan ke Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 33. Bahwa semua sumber daya alam milik negara harus dikelola untuk kemkmuran rakyat, bukan hanya diekspor untuk pendapatan negara.

Adapun batu bara sebagai komoditas pertambangan, pemerintah harus menjamin setiap usaha pertambangan. Ia mengimbau jangan hanya menyengsarakan rakyat dan merusak lingkungan tetapi ilegal. “Tata kelola batu bara kita harus diperbaiki dulu, jika tidak 2019 kita benar-benar defisit energi,” pungkas Kardaya.(GDH)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here