SHARE
ILUSTRASI

Jakarta, GEO ENERGI – Pemerintah Indonesia seharusnya mengubah paradigma batu bara untuk mengoptimalkan penggunaannya. Sehingga tidak menyia-nyiakan batu bara yang bersifat tidak renewable, dan saat produksinya merusak lingkungan.

“Selama ini, paradigma yang tertanam masih salah. Batu bara masih dianggap sebagai sumber pendapatan saja. Dieksploitasi untuk kemudian diekspor,” kata Ketua Kebijakan Pertambangan Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (PERHAPI), Budi Santoso di Jakarta, Ahad (24/5).

Batu bara merupakan barang tambang yang produksinya sangat besar di Indonesia, dan diekspor ke banyak negara. Padahal, jika pemerintah mampu mengolahnya, batu bara bisa menambal kekurangan energi nasional. Batu bara sangat bermanfaat untuk kedaulatan negara, ketahanan dan keamanan energi, serta meningkatkan daya saing dan kompetensi negara.

“Paradigma baru yang seharusnya ditanamkan, adalah batubara sebagai barang komoditas yang vital dan strategis,” jelas Budi kepada Geoenergi. Optimalisasi batu bara, menurut dia dengan mengurangi ekspor dan menggunakan sebagian besar batu bara sebagai sumber energi, misalnya menggantikan peran LPG. Dengan menggunakan batu bara, pemerintah bisa menghemat hingga puluhan triliun rupiah.

Ia menambahkan, Indonesia sudah terlalu banyak menjual batu bara ke luar dengan harga murah, belum lagi harga global batubara kini sudah rendah. Paradigma batu bara sebagai sumber pendapatan negara, membuat pemerintah hanya memikirkan produksi batu bara. Seharusnya, menurut dia pemerintah mulai memikirkan cara distribusi batu bara, sehingga sampai ke masyarakat.(GDH)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here